Friday, November 25, 2011

HERO


HERO
Padang pasir Afrika. Aku memilih tempat ini karena konon disinilah terminal pangeran kecil kalau dia singgah ke bumi. Kuharap dia berkunjung kesini hari ini. Aku menunggunya. Ada sesuatu di kepalaku yang mau kuperlihatkan kepadanya. Sebuah tunas biji duren. Aku mau dengar pendapatnya tentang biji duren ini.

Hmpfh! Itu kalau sempat. Kalau android android itu belum melumat badanku. Yah mereka memang akan datang beberapa saat lagi ke sini. Kau mau tahu untuk apa? Untuk berduel denganku. Jangan tertawa! Percaya saja! Karena hal ini sudah diatur di surat perjanjian yang peduli amat apa namanya.  
 

Kau tahu, aku sama sekali tak menyiapkan senjata apapun untuk menghadapi mereka. Bukan sengaja bunuh diri. Biji duren di kepalaku ini siap menyerap isi otakku. Pelan tapi pasti seluruh kemampuanku hilang. Jadinya aku tak tahu bagaimana cara menghadapi mereka. Sebenarnya mereka semua bisa dikalahkan dengan beberapa rumus. Tapi aku benar-benar tak tahu.

Jangan kira creators tak mengetahui hal ini. Maksudku tentang biji duren ini. Aku sudah berkali-kali menjelaskan pada mereka. Tapi bukannya prihatin mereka malah mengejekku.
“Bagaimana bisa biji duren nyasar ke kepala?” begitu kata dokter Watson, ahli otak mereka.
Aku kesal mendengarnya. Jadi aku balik bertanya,
“Lalu bagaimana bisa anda lahir dari sebongkah stromatolite?”
Belakangan dia malah menyuntikku sambil mengomel.
“Sudah kubilang kan jangan main-main dengan hal-hal aneh!
Mereka terus saja memaksaku. Mereka tak percaya aku bukan si super duper jenius seperti dulu.

Satu hal lagi, aku melihat bintang di mata mereka. Bintang itu bersinar terang saat mereka bicara padaku. Seolah kalau aku tak menuruti mereka bintang itu akan padam selamanya. Dan, kubiarkan kau tahu satu lagi kelemahanku, aku benci melihat bintang yang padam, redup, suram atau hal-hal sejenisnya. Sungguh aku benar-benar membencinya. Jadi aku mengiyakan saja. dan di sinilah aku sekarang.


Jujur sebenarnya aku tak mau bilang begitu. Aku tahu persis siapa mereka sebenarnya. Aku bisa tahu dari android-android ciptaan mereka yang kini berkhianat. Aku juga bisa tahu dari suhu udara yang tak sesejuk dulu. Atau dari daftar buronan dikantor polisi, masyarakat miskin, kuburan tanpa nama, rumah bordil, kasino, iklan di TV, rumah ibadah, film porno, dan yang paling utama dari bintang yang tak sebanyak dulu di angkasa. Semua hal itu menegaskan bahwa kalaupun mereka hidup, hidup mereka tak akan ada gunanya. Mereka Cuma mayat hidup. Mereka kosong. Hidup mereka tanpa arti. 

Mereka memang punya bintang, tapi bintang itu semu. Aku tahu itu semu karena sudah kupegang semua bintang itu. Meskipun begitu, sekalilagi kutegaskan kepadamu, aku benci melihat bintang yang padam, redup, suram atau hal-hal sejenisnya walaupun bintang itu semu sekalipun.

Di padang pasir garis horizon antara Bumi dan langit terlihat sangat jelas. Langit cerah. Langit indah. Bulan bulat besar menggantung di antara bintang. Dan seperti biasanya, denga melihatnya saja ada sedikit perasaan tenang yang berhasil membuat senyumku mengembang. Tapi Cuma bertahan sebentar. Ada sesuatu yang tumbuh di kepalaku. Biji duren ini semakin tumbuh. Tiba-tiba saja aku ingin tahu dimana ujungnya. Langit itu. Dan tiba-tiba saja aku bertanya-tanya. Untuk apa aku berada diantaranya. Lalu tiba-tiba saja aku sadr bahwa aku sedang hidup. Aku hidup. Dan tiba-tiba saja aku ingin tahu apa ujungnya. Hidup ini. Saat menemukan gambar nisan di fantasiku, tiba-tiba kepalaku sakit.

Mati. Jika ujung hidup ini adalah mati lalu kenapa harus susah payah berjuang demi mobil ferari, bodi seksi atau mungkin hanya demi sesuap nasi. Kenapa tak langsung saja mati? Kenapa harus berjuang kalau hidup ternyata sebegini rumitnya. Kalaupun alasan mereka karena Tuhan benci orang bunuh diri kenapa mereka tak peduli bahwa Tuhan juga benci orang yang merusak bumi. Aku benci melihat bintang yang tak sebanyak dulu di angkasa. Aku yakin Tuhan juga benci dengan hal ini.

Tuhan sudah sering aku mendengar kata ini tapi jujur aku masih belum percaya kalau Dia ada. Bukan sepenuhnya salahku. Guru agamaku suka bicara bohong. Mereka bilang menceritakan kejelakan orang lain adalah dosa. Tapi yang mereka lakukan lebih dari itu. Mereka lebih dari sekedar berdosa. Jadi bagaimana aku bisa percaya bahwa cerita mereka tentang Tuhan bukan sekedar dongeng.

Gila! Di atas semua ini mungkin itulah kesimpulanmu terhadapku. Bahwa aku gila, sinting, abnormal, sakit, frustasi, depresi, atau sejenisnya. Sebut aku apa saja. Kuakui aku memang begitu. Hidupku di bumi ini seperti tak bertujuan. Aku tak tahu harus menjadi siapa atau harus kuisi dengan apa hidupku ini. Hampir 13 tahun aku berdiri di sini. Kupikir aku sudah melakukan hal yang benar dalam hidupku. Ternyata tidak. Itu karena mereka. Karena kebenaran yang dulu mereka gembar-gemborkan kepadaku ternyata Cuma dongeng. Mereka memimpikan aku menjadi malaikat. Pegang kata kuncinya “MIMPI”! Pada kenyataannya mereka malah menuntutku menjadi setan. Mengajarkan padaku lewat tingkah laku bahwa sebuah apel pun dapat dijadikan alat pembunuh.

Lebih dari itu, dari semua buku adab yang kubaca, dunia tak merefleksikan moral yang pantas kutiru. Kalaupun ada selalu berujung dengan kepalsuan. Kau tahu rasanya hidupku seperti apa? Seperti berjalan dalam gelap. Dan hidup menjadi sangat berat. Berat rasanya hidup dengan orang yang tak sesuai dengan harapanku. Berat rasanya jika harus menahan kecewa karena hidup tak seperti dalam bayanganku. Sulit rasanya hidup di tempat yang setiap saat aku harus memaklumi kesalahan-kesalahan. Sulit rasanya menerima alasan maklum karena manusia harus bertindak manusiawi. Makin lama bagiku makin tidak manusiawi karena mereka melakukannya berulang kali seolah hal itu adalah hal yang disengaja. Berulangkali melakukannya hingga menjadi peradaban baru. Sungguh hidup dengan cara begini sangat berat bagiku.

Mungkin aku berkali-kali mengatakan padamu bahwa aku tak peduli. Jujur, aku tak bisa sepenuhnya tak peduli. Bagaimanapun juga aku hidup dengan mereka. Aku tinggal di tengah-tengah mereka. Lebih dari itu, aku punya indera, akal juga hati. Jadi aku tak pernah berhasil untuk benar-benar tak peduli. Dan jadilah kepalaku makin penuh dengan segala macam kebingungan. Lalu di ujung, saat aku tersangkit, aku menjadi lebih sering menangis. Aku mudah saja menangis saat penjual batagor lewat di depanku. Atau saat ibu merjang bawang. Atau saat ayah membaca Koran. Atau aku mudah saja menangis saat melihat Ben, kawanku yang berwajah jauh dari tampan, berdandan berjam-jam di depan cermin. Aku mudah saja menangisi mereka padahal mereka melakukannya dengan tanpa beban. Ada sesuatu yang lebih dari sekedar hal yang tampak mata bagiku. Ada sesuatu yang saat kusadari maka dunia ini penuh dengan hal-hal yang perlu kutangisi.

Hidup di bumi ini memang benar-benar rumit. Maka jangan salahkan aku jika aku tak pernah puas dengan bumi dan selalu bermimpi tentang planet kecil yang seperti milik pangeran kecil, yang punyaku sendiri, yang letaknya sangat jauh di angkasa raya, yang jauh dari bumi, yang aku bisa tertawa sepuas-puasnya di dalamnya, yang…. Aku tak tahu apa. Aku benar-benar lelah. Aku lelah. Benar-benar lelah.
           
“Tuhan, jika Kau bukan tokoh dongeng belaka. 
Jika Kau benar-benar ada. 
Jika Kau memang Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Sempurna, 
Kau pasti tak akan kesulitan memindahkanku ke tempat yang benar. 
Aku merasa tak berdiri di tempat yang benar. 
Dan aku tak tahu harus berbuat apa. 
Sama sekali tak tahu, Tuhan. 
Kumohon tolong aku.”

Suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Makin lama makin nyaring. Aku tak peduli. Ribuan pesawat besar kecil melintas di kepalaku

“Waktunya mati!”

Yah ternyata aku tak sempat bertemu pangeran kecil. Semoga saja creators tak lupa menciptakan hati untuk mereka. Siapa tahu mereka berbaik hati dan rela berbagi bumi ini dengan manusia. Semoga saja begitu. Aku tak peduli dengan julukan peminta-minta. Sungguh aku tak peduli.

Debu-debu pasir beterbangan ke mukaku. Makin lama makin kencang. Aku tak bisa melihat. Bernafas pun susah. Kututupi mukaku dengan jaket terdengar sebuah pesawat mendarat di dekatku. Sepertinya salah satu pesawat dari ribuan pesawat itu sengaja mendatangiku. Baguslah! Sekarang waktunya!
          “Deru! Hey, Deru!”
          “Joel? Is that you Joel?”
          “Yeah, this is the real Joel buddy!”
          “Yeah. What are you doin here?”
          “Pickin you up!”
         “What for? I haven’t met them yet! Just go back to your bed! Sleep well. And find there’ll be no android anymore tomorrow. Ust trust me, OK?”
          “What a heck! I wont let you save this world alone and find your stupid pimply face at everyside of this world in the next morning. A pimply face hero!? That’s stupid!!”
Joel diam. Aku pun diam tak bergerak.
          “Hey Deru just come on!”
Joel diam karena aku masih diam. Aku tak tahu apa maksudnya datang kemari. Aku tak peduli. Aku sama sekali tak bereaksi.
          “Oh shit! Now, I really need your help, sir!”
Aku tak tahu apa tapi sepertinya sebuah selimut besar dibungkuskan begitu saja ke badanku. Badanku terasa melayang kemudian. Seseorang mengangkat badanku kemudian.
          “You’re not the only livin creature in this earth, stupid.” Kata Joel sambil memukul kepalaku. “We save this world together!”

No comments:

Post a Comment