Tuesday, December 6, 2011

simple serenade

simple serenade

Kupecahan kaca mobil dengan sikutku. Sedikit sakit tapi aku tak peduli. Apapun yang terjadi, lebih baik hidup daripada mati. Aku bagaimana pun juga tak boleh menyerah dalam hal mempertahankan nyawa. Nyawaku berharga tapi tidak dengan uang. Aku tak akan membiarkan nyawaku dihargai dengan uang atau benda mati apapun. Aku lebih mulia dari yang mati atau tak berakal.
Waktu aku menengok ke belakang, kulihat Joel dengan darah segar di dahinya. Dia sudah sadar.
“Joel kepalamu berdarah.”
Joel tak berkata apapun. Dia hanya meraba dahinya. Darah menempel di tangannya. Dia meringis. Aku tak berkata apapun. Kulanjutkan memecahkan kaca mobil dengan sikutku. Kaca yang terlalu tebal yang belum juga pecah dari tadi.
“What are you doing?”
“Wuddaya think. I’m trynna save our lives.”
Joel diam saja kulihat matanya yang penuh tanda tanya, jadi kujelaskan alasanku padanya.
“Mobil ini ‘ntar lagi meledak. Kalau kita gak cepat-cepat keluar, kita bisa gosong.”
Masih kulihat tatapannya yang penuh tanda tanya. Lalu tiba-tiba dia tertawa.
“Yeah? Wheredja get that stupid idea?”
“What?”
Kemudian aku segera tahu maksud pertanyaannya.
“Oh. Biasanya di film kan gitu?”
Aku tak begitu memperhatikan dia selanjutnya. Tapi sepertinya dia berkata ‘great’ dengan nada mengejek. Aku tak peduli. Aku yakin keputusanku sangat tepat dan benar.
“Jam berapa sekarang?” tanyaku. Aku merasa mobil ini akan meledak sebentar lagi.
“For what?”
Bukan jawaban yang kutunggu. Rasa kesalku tiba-tiba saja meluap.
“WHAT TIME IS IT NOW?” teriakku keras.
Joel kaget. Aku sadar aku berteriak tadi. Tapi aku tak peduli. Terkadang kau memang perlu berkata keras pada seseorang. Terlebih lagi kalau orang itu membuat kepalamu berputar-putar padahal kau sedang terburu-buru.
“Don’t mad at me hey! Aku nggak pernah pake jam tangan.”
“Alright. Now help me!”
“Eh?”
Mendengar responnya yang begitu menjengkelkan itu membuatku menoleh lagi ke arahnya. Dia pasti tahu aku sangat kesal dengannya. Lalu tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Hey apa kamu tersangkut?”
“Tersangkut?” lagi-lagi dengan nada mengejek. Joel benar-benar orang yang sangat mengesalkan. Setiap kali kau bertanya padanya dia tak akan langsung menjawab pertanyaanmu. Bisa saja dia malah balik menanyaimu, atau paling parah mengataimu bodoh secara tidak lanhsung tapi bisa kau rasakan lewat nada bicaranya yang sangat jelek. Membuatmu ingin meninju mulutnya setiap dia selesai bicara.
“You know what hey?”
“What?”
“I feel like I’m gonna kill ya!”
Joel diam saja. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan. Mungkin saja diotaknya dia melihat gambarku sedang duduk memakan ice cream vanilla di atas batu nisannya. Kuharap begitu. Aku benar-benar kesal dengannya.
“What can I do for ya?” katanya setelah diam lama.
“Buka bajumu?”
“What!?! Are ya crazy?”
“Another ‘what’ and I really really will…”
“Easy… easy… hey! Should I take off my pants too?”
“Bungkus tanganmu dengan bajumu! Bantu aku pecahkan  kaca ini!”
“Ooh!”
Joel mulai membuka bajunya dan membungkus tangannya.
“I cannot belive this…”
“And stop grumming!”
Kaca mobil akhirnya pecah. Ada sedikit rasa lega walaupun aku belum benar-benar keluar dari mobil. Sikutku juga sepertinya berdarah. Kuperlebar lubang kaca mobil itu lalu kututupi sisi-sisinya dengan jaketku. Pelan-pelan aku pun keluar. Joel mengikutiku di belakang.
“Hey masak mobil ini akan meledak?”
“Sudah! Cepat keluar!”
“Ugh…padahal mobil baik-baik saja.”
Mobil memang dalam keadaan baik. Aku hanya takut kalau mobil ini tiba-tiba meledak. Guncangan tadi terlalu dahsyat. Aku takut kalau-kalau ada bagian mobil ini yang saling bergesek, lalu memercikkan api lalu BOOOM! Yah itu bisa saja terjadi.
Joel mengeluarkan badannya dari mobil. Dia meringis waktu tangannya tergores kaca.
“Hurry up!”
“Stop asking me to hurry will ya! Don’t ya see my blood”
“Hurry hey big baby! Its only a very tinny winny scretch.”
Setelah itu kami berlari ke balik gundukan yang berjarak sekitar 200 m dari mobil. Kami sembunyi di balik gundukan itu. Menunggu detik-detik meledaknya mobil.
“Dokter bakal marah besar.”
“Relax. He’s not that kinda man.”
“Yeah?”
Joel lalu meraba kepalanya.
“You’ll death soon Joel. Darahmu nggak berhenti keluar. Sebentar lagi kamu bakal kehabisan darah. Then you’re dead. Sent my best regard to all the angels in heaven will ya!”
“It’s not funny Deru. Not at all.”
“Wuddaya want me to do? The civilization is too far away from here. I cant help you. Nobody can help you.”
Joel diam. Terlihat garis-garis kecemasan di wajahnya.
“Kemungkinan besar otakmu bocor Joel.”
“Cut it out Deru. It’s not funny.”
“I’m not trynna be funny.”
Joel menatapku tajam. Kubalas dengan tawa yang meledak-ledak. Ekspresi Joel benar-benar lucu. Jadi pantas kalau aku tertawa meledak-ledak begitu. Joel kemudian berhenti menatapku. Dia memegangi kepalanya sambill menatap langit biru dan lembah hijau di depan kami. Aku pun mulai berhenti tertawa.
“Kapan musim hujan?” tanya Joel tiba-tiba.
“Hah?”
“Its been a very long time I never see the rainbow.”
“Oh. Kupikir kenapa.”
“Is it a weird thing if I wanna see the rainbow?”
Alis Joel melengkung turun sebelah sambil menatapku.
“Nope! Of course not! It is just…”
Aku berhenti bicara. Itu karena tatapan Joel yang menyinggungku. Tatapannya menegaskan seolah aku adalah makhluk terbodoh sedunia.
“What are you looking at?”
Joel tak menjawab. Dia Cuma buang muka. Dia kembali hanyut dalam pemandangan indah di depan kami. Langit biru, tumpukan awan putih dan padang hijau luas.
“You know what? I miss that too. The rainbow.”
Joel diam tak berkomentar. Dia Cuma menunduk. Entah apa yang dipikirkan.
“So you don’t like this beautiful summer sky?”
“I don’t say that. I just…. I don’t know what but I really wanna see the rainbow right now.”
“Be patient, dude! That’s one of some ways to feel the joy. Your dream comes true after a very great longing on it.”
Joel masih tetap diam. Lembah hijau luas. Langit biru biru cerah. Awan putih bertumpuk-tumpuk. Pemandangan yang indah, tapi aku tak tahu kenapa Joel ingin sekali melihat pelangi. Angin menghembus pelan. Kuhirup udara dalam-dalam. Lalu kuhembus pelan-pelan. Fiuh…
BUAK! Joel tiba-tiba memukul bahuku keras. Dia menatapku sambil tertawa-tawa.
“What’s the matter with you?”
Joel tak menjawab. Dia masih tertawa-tawa. Dia masih menepuk-nepuk bahuku.
“You’re getting insane.”
Joel masih tertawa-tawa. Kupandangi saja dia tanpa ekspresi. Tapi dia tetap tak berhenti tertawa. Beberapa menit selanjutnya dia bicara.
“You’re great my buddy.”
“Yeah? For what?”
“You’re so damn…” Joel tak melanjutkan kalimatnya. Dia menatapku rekat-rekat. Aku benar-benar tak tahu apa yang dia pikir tentangku.
“You’re…. Arghhhhh….”
Joel kembali menepuk-nepuk bahuku. Masih sambil tertawa-tawa.
“But…” tiba-tiba dia berhenti tertawa. “But…hmpfh…” Ekspresi Joel tiba-tiba berubah serius lalu sedikit cemberut.
“You’re insane.” Kataku
Kutengok dari balik gundukan. Mobil belum juga meledak. Tadi aku memang terlalu ceroboh. Tapi sepertinya bukan sepenuhnya salahku. Tadi ada seekor Burung Dodo. Dia tak seharusnya berdiri di tengah jalan. Jalanan tadi begitu sempit dan aku tak mungkin membunuh hewan yang hampir punah. Ah, kalaupun burung itu tidak tergolong hewan yang hampir punah, aku tetap tak akan mau menabraknya begitu saja.
“Hey Deru I wanna ask you something. May I?”
“Sejak kapan pakai ijin? Kurasa kamu benar-benar sudah gila Joel!”
“Apa kamu selalu begitu? I mean hating all the people and that kinda crap.”
Pertanyaan konyol tapi langsung menghantam di otakku. Rasanya seperti tamparan dahsyat. Aku memang selalu bersikap seolah aku benci semua orang tapi aku tak pernah menyangka ada yang mempertanyakan sikapku ini.
“I like you.”
“I’m not that stupid do not realize your extreme, great, huge, wide and large hatred on me.”
Aku diam tak berkomentar. Sungguh awalnya aku tak ingin bersikap seperti yang Joel katakan. Aku hanya ingin menunjukkan pada mereka bahwa aku sedang marah. Dan aku jengkel, sering sekali jengkel karena mereka sepertinya tak peduli dengan keadaanku. Aku cuma merasa bahwa ada yang tidak beres. Makin lama makin tidak beres, tapi semua orang tak mau peduli.
“Sorry Deru. I didn’t mean to make you feel bad. Sorry.”
Aku diam tak berkomentar.
“Aku cuma merasa kau perlu belajar sedikit happy. You think about this world too damn seriously.”
“Jangan sok! Kamu juga begitu kan? Malah aku lebih baik dari kamu. I never think about suicide. I think about death but not how to end my life.”
“Well, Okey…Okey… I admit that. You’re better than me in this case. But this aint the thing  I wanna discuss with ya.”
Aku tak mengerti maksud Joel. Jadi kupandangi saja dia tajam.
“What? Don’t look at me that way! Everybody comes from stupid.”
Fiuh… kuhembus nafasku perlahan.
“You’re not stupid! Orang yang tak pernah berpikir tentang hidup baru disebut bodoh. And this world sadly is fulled with the fools.”
“Thank you. But hey actually this world is beautiful. The sky is blue and bright. Just take a look at that. It’s beautiful isn’t it?”
“Yeah! And the rainbow is so miserable too. But this is the thing that makes me sad too. This is the thing that make me cannot really ignore this world.”
“Kata Dokter Watson ini Cuma fase kehidupan. Setiap orang pasti pernah begini. All we have to do is just pass it.”
“I don’t like that word ‘pass’. Ini bukan hanya tentang aku sendiri. Aku tinggal di tengah-tengah dunia. Apapun yang terjadi di dalamnya pasti mempengaruhi aku. Jadi ini bukan hanya tentang aku.”
Aku diam sebentar. Kuambil nafas panjang lalu kuhembus perlahan.
“Baiklah! Ini cuma fase tapi aku tak mau melewati fase ini sendirian.”
“I’m with you.”
“Bukan itu. Kau bodoh Joel. Super idiot.”
“Kau yang bodoh. I gottcha!”
“It’s not funny.”
“I gottcha.”
Joel masih tertawa-tawa. Aku diam tak berkomentar.
“Hey Deru. If someday you find the answer, tell me will ya?”
Aku tak berkomentar.
“Tell me will ya?”
Aku diam.
“Hey Deru! Tell me will ya? Hey!”
“Apa mobilnya sudah meledak?”
“Do you hear any sound?”
“Nope!”
“Sepertinya kali ini kau salah Deru. Well that’s fine. Its so human. You’re happy to know that you’re a human right? You are….”
Kupandangi wajah Joel kesal jadi dia tak melanjutkan kalimatnya.
“Okey….okey….aku nggak akan ngomong lagi.
Kembali kutengok mobil Dokter Watson dari balik gundukan. Sama sekali tak ada tanda-tanda akan meledak. Tapi siapa yang tahu masa depan. Kewaspadaan itu penting.
“Mobil itu pasti meledak sebentar lagi.”
Joel diam tak berkomentar. Kulihat dia menatap langit lekat-lekat. Mulutnya pelan-pelan terbuka. Bola matanya membesar. Dia lalu tersenyum. Melihatnya begitu aku terpancing melihat langit juga. Awan bertumpuk berbaris tak beraturan di langit biru. Putih lembut seperti gulali.
“Manis!” kataku.
Joel diam tak berkomentar. Kulihat dia menghirup nafas panjang. Menahannya beberapa saat lalu menghembusnya. Dia kembali tersenyum lalu melirikku.
“Bukan mengkhayal! Mendengar suara angin, melihat langit biru, awan bertumpuk-tumpuk, hijau di daun, merah di bunga-bunga dan mendapati ternyata jantung masih berdegup, nafas masih berhembus dan kaki masih menapak di tanah coklat, masih mendapati bahwa kau hidup,…”
Aku merasa sangat tak asing dengan kata-kata Joel itu. Itu catatan kecil yang kutulis di halaman terakhir buku harianku. Bukan ideku. Tulisan itu kutemukan pada sebuah kertas basah di bangku taman kota.
“KAMU BUKA DIARYKU LAGI YA?” teriakku.
“This is what I call life!”
Bagian ini tak ada di catatanku. Joel menambahnya sendiri.
“This is what I call heaven on earth.”
Joel pintar juga mengakhiri catatan tanpa akhir itu.
“Sial kau Joel! Kau ngintip lagi rupanya!”
Joel tak berkomentar banyak selain tertawa. Dia mulai berlari-lari di lembah hijau. Dia lupa mobil Dokter Watson yang mau meledak. Dia juga lupa kepalanya yang berdarah.
“Joel! Hey Joel where are you goin?”
Joel terus tertawa-tawa. Tawa bebas. Jadi aku tak bisa menahan diriku untuk tak ikut tertawa. Ada yang hilang, lepas, terbang rasanya saat aku tertawa. Ada lega. Ada tenang.

No comments:

Post a Comment