simple serenade
Kupecahan kaca mobil dengan sikutku.
Sedikit sakit tapi aku tak peduli. Apapun yang terjadi, lebih baik hidup
daripada mati. Aku bagaimana pun juga tak boleh menyerah dalam hal
mempertahankan nyawa. Nyawaku berharga tapi tidak dengan uang. Aku tak akan
membiarkan nyawaku dihargai dengan uang atau benda mati apapun. Aku lebih mulia
dari yang mati atau tak berakal.
Waktu aku menengok ke belakang, kulihat
Joel dengan darah segar di dahinya. Dia sudah sadar.
“Joel kepalamu berdarah.”
Joel tak berkata apapun. Dia hanya meraba
dahinya. Darah menempel di tangannya. Dia meringis. Aku tak berkata apapun.
Kulanjutkan memecahkan kaca mobil dengan sikutku. Kaca yang terlalu tebal yang
belum juga pecah dari tadi.
“What are you doing?”
“Wuddaya think. I’m trynna save our lives.”
Joel diam saja kulihat matanya yang penuh
tanda tanya, jadi kujelaskan alasanku padanya.
“Mobil ini ‘ntar lagi meledak. Kalau kita
gak cepat-cepat keluar, kita bisa gosong.”
Masih kulihat tatapannya yang penuh tanda
tanya. Lalu tiba-tiba dia tertawa.
“Yeah? Wheredja get that stupid idea?”
“What?”
Kemudian aku segera tahu maksud pertanyaannya.
“Oh. Biasanya di film kan gitu?”
Aku tak begitu memperhatikan dia
selanjutnya. Tapi sepertinya dia berkata ‘great’ dengan nada mengejek. Aku tak
peduli. Aku yakin keputusanku sangat tepat dan benar.
“Jam berapa sekarang?” tanyaku. Aku merasa
mobil ini akan meledak sebentar lagi.
“For what?”
Bukan jawaban yang kutunggu. Rasa kesalku
tiba-tiba saja meluap.
“WHAT TIME IS IT NOW?” teriakku keras.
Joel kaget. Aku sadar aku berteriak tadi.
Tapi aku tak peduli. Terkadang kau memang perlu berkata keras pada seseorang.
Terlebih lagi kalau orang itu membuat kepalamu berputar-putar padahal kau
sedang terburu-buru.
“Don’t mad at me hey! Aku nggak pernah pake
jam tangan.”
“Alright. Now help me!”
“Eh?”
Mendengar responnya yang begitu
menjengkelkan itu membuatku menoleh lagi ke arahnya. Dia pasti tahu aku sangat
kesal dengannya. Lalu tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Hey apa kamu tersangkut?”
“Tersangkut?” lagi-lagi dengan nada
mengejek. Joel benar-benar orang yang sangat mengesalkan. Setiap kali kau
bertanya padanya dia tak akan langsung menjawab pertanyaanmu. Bisa saja dia
malah balik menanyaimu, atau paling parah mengataimu bodoh secara tidak
lanhsung tapi bisa kau rasakan lewat nada bicaranya yang sangat jelek.
Membuatmu ingin meninju mulutnya setiap dia selesai bicara.
“You know what hey?”
“What?”
“I feel like I’m gonna kill ya!”
Joel diam saja. Aku tak tahu apa yang dia
pikirkan. Mungkin saja diotaknya dia melihat gambarku sedang duduk memakan ice
cream vanilla di atas batu nisannya. Kuharap begitu. Aku benar-benar kesal
dengannya.
“What can I do for ya?” katanya setelah
diam lama.
“Buka bajumu?”
“What!?! Are ya crazy?”
“Another ‘what’ and I really really will…”
“Easy… easy… hey! Should I take off my
pants too?”
“Bungkus tanganmu dengan bajumu! Bantu aku
pecahkan kaca ini!”
“Ooh!”
Joel mulai membuka bajunya dan membungkus
tangannya.
“I cannot belive this…”
“And stop grumming!”
Kaca mobil akhirnya pecah. Ada sedikit rasa lega
walaupun aku belum benar-benar keluar dari mobil. Sikutku juga sepertinya
berdarah. Kuperlebar lubang kaca mobil itu lalu kututupi sisi-sisinya dengan
jaketku. Pelan-pelan aku pun keluar. Joel mengikutiku di belakang.
“Hey masak mobil ini akan meledak?”
“Sudah! Cepat keluar!”
“Ugh…padahal mobil baik-baik saja.”
Mobil memang dalam keadaan baik. Aku hanya
takut kalau mobil ini tiba-tiba meledak. Guncangan tadi terlalu dahsyat. Aku
takut kalau-kalau ada bagian mobil ini yang saling bergesek, lalu memercikkan
api lalu BOOOM! Yah itu bisa saja terjadi.
Joel mengeluarkan badannya dari mobil. Dia
meringis waktu tangannya tergores kaca.
“Hurry up!”
“Stop asking me to hurry will ya! Don’t ya
see my blood”
“Hurry hey big baby! Its only a very tinny
winny scretch.”
Setelah itu kami berlari ke balik gundukan
yang berjarak sekitar 200 m dari mobil. Kami sembunyi di balik gundukan itu.
Menunggu detik-detik meledaknya mobil.
“Dokter bakal marah besar.”
“Relax. He’s not that kinda man.”
“Yeah?”
Joel lalu meraba kepalanya.
“You’ll death soon Joel. Darahmu nggak
berhenti keluar. Sebentar lagi kamu bakal kehabisan darah. Then you’re dead.
Sent my best regard to all the angels in heaven will ya!”
“It’s not funny Deru. Not at all.”
“Wuddaya want me to do? The civilization is
too far away from here. I cant help you. Nobody can help you.”
Joel diam. Terlihat garis-garis kecemasan
di wajahnya.
“Kemungkinan besar otakmu bocor Joel.”
“Cut it out Deru. It’s not funny.”
“I’m not trynna be funny.”
Joel menatapku tajam. Kubalas dengan tawa
yang meledak-ledak. Ekspresi Joel benar-benar lucu. Jadi pantas kalau aku
tertawa meledak-ledak begitu. Joel kemudian berhenti menatapku. Dia memegangi
kepalanya sambill menatap langit biru dan lembah hijau di depan kami. Aku pun
mulai berhenti tertawa.
“Kapan musim hujan?” tanya Joel tiba-tiba.
“Hah?”
“Its been a very long time I never see the
rainbow.”
“Oh. Kupikir kenapa.”
“Is it a weird thing if I wanna see the
rainbow?”
Alis Joel melengkung turun sebelah sambil
menatapku.
“Nope! Of course not! It is just…”
Aku berhenti bicara. Itu karena tatapan
Joel yang menyinggungku. Tatapannya menegaskan seolah aku adalah makhluk
terbodoh sedunia.
“What
are you looking at?”
Joel tak menjawab. Dia Cuma buang muka. Dia
kembali hanyut dalam pemandangan indah di depan kami. Langit biru, tumpukan
awan putih dan padang
hijau luas.
“You know what? I miss that too. The
rainbow.”
Joel diam tak berkomentar. Dia Cuma
menunduk. Entah apa yang dipikirkan.
“So you don’t like this beautiful summer
sky?”
“I don’t say that. I just…. I don’t know
what but I really wanna see the rainbow right now.”
“Be patient, dude! That’s one of some ways
to feel the joy. Your dream comes true after a very great longing on it.”
Joel masih tetap diam. Lembah hijau luas.
Langit biru biru cerah. Awan putih bertumpuk-tumpuk. Pemandangan yang indah,
tapi aku tak tahu kenapa Joel ingin sekali melihat pelangi. Angin menghembus
pelan. Kuhirup udara dalam-dalam. Lalu kuhembus pelan-pelan. Fiuh…
BUAK! Joel tiba-tiba memukul bahuku keras.
Dia menatapku sambil tertawa-tawa.
“What’s the matter with you?”
Joel tak menjawab. Dia masih tertawa-tawa.
Dia masih menepuk-nepuk bahuku.
“You’re getting insane.”
Joel masih tertawa-tawa. Kupandangi saja
dia tanpa ekspresi. Tapi dia tetap tak berhenti tertawa. Beberapa menit
selanjutnya dia bicara.
“You’re great my buddy.”
“Yeah? For what?”
“You’re so damn…” Joel tak melanjutkan
kalimatnya. Dia menatapku rekat-rekat. Aku benar-benar tak tahu apa yang dia
pikir tentangku.
“You’re…. Arghhhhh….”
Joel kembali menepuk-nepuk bahuku. Masih
sambil tertawa-tawa.
“But…” tiba-tiba dia berhenti tertawa.
“But…hmpfh…” Ekspresi Joel tiba-tiba berubah serius lalu sedikit cemberut.
“You’re insane.” Kataku
Kutengok dari balik gundukan. Mobil belum
juga meledak. Tadi aku memang terlalu ceroboh. Tapi sepertinya bukan sepenuhnya
salahku. Tadi ada seekor Burung Dodo. Dia tak seharusnya berdiri di tengah
jalan. Jalanan tadi begitu sempit dan aku tak mungkin membunuh hewan yang
hampir punah. Ah, kalaupun burung itu tidak tergolong hewan yang hampir punah,
aku tetap tak akan mau menabraknya begitu saja.
“Hey Deru I wanna ask you something. May
I?”
“Sejak kapan pakai ijin? Kurasa kamu
benar-benar sudah gila Joel!”
“Apa kamu selalu begitu? I mean hating all
the people and that kinda crap.”
Pertanyaan konyol tapi langsung menghantam
di otakku. Rasanya seperti tamparan dahsyat. Aku memang selalu bersikap seolah
aku benci semua orang tapi aku tak pernah menyangka ada yang mempertanyakan sikapku
ini.
“I like you.”
“I’m not that stupid do not realize your
extreme, great, huge, wide and large hatred on me.”
Aku diam tak berkomentar. Sungguh awalnya
aku tak ingin bersikap seperti yang Joel katakan. Aku hanya ingin menunjukkan
pada mereka bahwa aku sedang marah. Dan aku jengkel, sering sekali jengkel
karena mereka sepertinya tak peduli dengan keadaanku. Aku cuma merasa bahwa ada
yang tidak beres. Makin lama makin tidak beres, tapi semua orang tak mau
peduli.
“Sorry Deru. I didn’t mean to make you feel
bad. Sorry.”
Aku diam tak berkomentar.
“Aku cuma merasa kau perlu belajar sedikit
happy. You think about this world too damn seriously.”
“Jangan sok! Kamu juga begitu kan? Malah aku lebih
baik dari kamu. I never think about suicide. I think about death but not how to
end my life.”
“Well, Okey…Okey… I admit that. You’re
better than me in this case. But this aint the thing I wanna discuss with ya.”
Aku tak mengerti maksud Joel. Jadi
kupandangi saja dia tajam.
“What? Don’t look at me that way! Everybody
comes from stupid.”
Fiuh… kuhembus nafasku perlahan.
“You’re not stupid! Orang yang tak pernah
berpikir tentang hidup baru disebut bodoh. And this world sadly is fulled with
the fools.”
“Thank you. But hey actually this world is
beautiful. The sky is blue and bright. Just take a look at that. It’s beautiful
isn’t it?”
“Yeah! And the rainbow is so miserable too.
But this is the thing that makes me sad too. This is the thing that make me
cannot really ignore this world.”
“Kata Dokter Watson ini Cuma fase
kehidupan. Setiap orang pasti pernah begini. All we have to do is just pass
it.”
“I don’t like that word ‘pass’. Ini bukan
hanya tentang aku sendiri. Aku tinggal di tengah-tengah dunia. Apapun yang
terjadi di dalamnya pasti mempengaruhi aku. Jadi ini bukan hanya tentang aku.”
Aku diam sebentar. Kuambil nafas panjang
lalu kuhembus perlahan.
“Baiklah! Ini cuma fase tapi aku tak mau
melewati fase ini sendirian.”
“I’m with you.”
“Bukan itu. Kau bodoh Joel. Super idiot.”
“Kau yang bodoh. I gottcha!”
“It’s not funny.”
“I gottcha.”
Joel masih tertawa-tawa. Aku diam tak
berkomentar.
“Hey Deru. If someday you find the answer,
tell me will ya?”
Aku tak berkomentar.
“Tell me will ya?”
Aku diam.
“Hey Deru! Tell me will ya? Hey!”
“Apa mobilnya sudah meledak?”
“Do you hear any sound?”
“Nope!”
“Sepertinya kali ini kau salah Deru. Well
that’s fine. Its so human. You’re happy to know that you’re a human right? You
are….”
Kupandangi wajah Joel kesal jadi dia tak
melanjutkan kalimatnya.
“Okey….okey….aku nggak akan ngomong lagi.
Kembali kutengok mobil Dokter Watson dari
balik gundukan. Sama sekali tak ada tanda-tanda akan meledak. Tapi siapa yang
tahu masa depan. Kewaspadaan itu penting.
“Mobil itu pasti meledak sebentar lagi.”
Joel diam tak berkomentar. Kulihat dia
menatap langit lekat-lekat. Mulutnya pelan-pelan terbuka. Bola matanya
membesar. Dia lalu tersenyum. Melihatnya begitu aku terpancing melihat langit
juga. Awan bertumpuk berbaris tak beraturan di langit biru. Putih lembut
seperti gulali.
“Manis!” kataku.
Joel diam tak berkomentar. Kulihat dia
menghirup nafas panjang. Menahannya beberapa saat lalu menghembusnya. Dia
kembali tersenyum lalu melirikku.
“Bukan mengkhayal! Mendengar suara angin,
melihat langit biru, awan bertumpuk-tumpuk, hijau di daun, merah di bunga-bunga
dan mendapati ternyata jantung masih berdegup, nafas masih berhembus dan kaki
masih menapak di tanah coklat, masih mendapati bahwa kau hidup,…”
Aku merasa sangat tak asing dengan
kata-kata Joel itu. Itu catatan kecil yang kutulis di halaman terakhir buku
harianku. Bukan ideku. Tulisan itu kutemukan pada sebuah kertas basah di bangku
taman kota.
“KAMU BUKA DIARYKU LAGI YA?” teriakku.
“This is what I call life!”
Bagian ini tak ada di catatanku. Joel
menambahnya sendiri.
“This is what I call heaven on earth.”
Joel pintar juga mengakhiri catatan tanpa
akhir itu.
“Sial kau Joel! Kau ngintip lagi rupanya!”
Joel tak berkomentar banyak selain tertawa.
Dia mulai berlari-lari di lembah hijau. Dia lupa mobil Dokter Watson yang mau
meledak. Dia juga lupa kepalanya yang berdarah.
“Joel! Hey Joel where are you goin?”
Joel terus tertawa-tawa. Tawa bebas. Jadi
aku tak bisa menahan diriku untuk tak ikut tertawa. Ada yang hilang, lepas, terbang rasanya saat
aku tertawa. Ada
lega. Ada
tenang.
No comments:
Post a Comment