Kepada: Generasi Berikut
Yah memang dia adalah bagian dari kalian. Dan aku sama sekali
tak tahu bagaimana akhir dari semua ini. Bill terlalu benci pada kami. Mungkin
kalian pun akan marah melihat perlakukan kami padanya dan menuduh kami memang
pantas di benci. Kami mewariskan dunia yang sudah bobrok kepada kalian. Seperti
kapal bocor yang perlu ditambal di sana sini. Bill tahu itu. Dia satu satunya
bocah 12 tahun - dia tak suka disebut
bocah – yang sadar akan hal ini. Bukan hanya sadar tapi juga berpikir terlalu
panjang akan hal ini. Tapi seharusnya dia tahu kalau kapal belum pecah terbelah
hingga sama sekali tak bisa berlayar. Masih ada harapan.
Aku tahu kalian memang pantas menuntut kami atas itu. Kalian
layak akan hidup yang lebih baik. Bukan hanya secara materiil tapi juga moral
dan spiritual. Sesuatu yang cuma ‘dongeng’ kata Bill. Hmpfh! Dia sama sekali
tak percaya ada kebaikan. Dia sama sekali tak pernah terlihat bahagia. Dia
pernah tersenyum, tapi bukan karena senang. Dia mengejek beberapa tokoh Negara
yang saling serang di media. Dia juga
sering menertawakanku dengan sinis. Dia terlalu kejam terkadang untuk anak
seumurannya. Aku sering dibuat bergidik olehnya dan berpikir kalau sebenarnya
dia benar benar Monster Durian – bagaimanapun aku pernah berusia 12 tahun dan
percaya pada cerita cerita peri, monster atau kurcaci di hutan rahasia.-
Dia sangat pintar. Kami sadar benar di tangannyalah kami boleh menaruh
harapan. Bukan berarti kami tak percaya pada kalian. Kalian semua, generasi
berikut, adalah asset yang sangat berharga bagi kami. Maaf menggunakan istilah
ini, seolah kalian Cuma seonggok benda mati berharga yang bisa ditaruh di saku
atau dijual kesana kemari. Maaf sekali lagi! Kami benar benar menaruh harapan
besar pada kalian. Pada Bill terutama. Hmpfh! Mungkin inilah salah satu
penyebab dia menjadi begitu. Dia berpikir bahwa semua kesalahan kami akan
dibebankan hanya kepada dia. Terus terang kami percaya bahwa dia yang akan
benar benar bisa merubah dunia. Dia bukan Tuhan tentu saja. Tapi segala
mukjizat Tuhan yang ada padanya membuat kami percaya bahwa dia nantinya yang
akan merubah dunia. Dan kalian harus percaya bahwa kami tidak akan meninggalkannya,
meninggalkan kalian. Dia sangat jahat sekali mengira kami akan melarikan diri.
Bumi Cuma 1. Memang kami mau lari kemana?
Tak pernah ada seorang yang bisa memikul dosa orang lain. Itu makanya
kami ingin menebusnya. Kami ingin juga mendengar sesuatu yang baik tentang diri
kami dari kalian.
Tapi Bill sama sekali tak percaya pada hal ini. Apapun yang kami
lakukan, dia hanya menganggapnya tipuan.
“Kau tak usah pura pura baik, Doc!” kata Bill suatu hari ketika
aku membantunya menjemur baju. Aku sungguh ingin membantunya hari itu.
Mendengarnya bicara begitu aku meras diriku adalah jelmaan setan, bahwa aku tak
pernah benar benar menjadi orang baik. Ini benar benar membuatku merasa buruk.
Sangat buruk!
Kami orang dewasa tidak selamanya baik. Dewasa tak sama artinya
dengan malaikat, kalian harus tahu itu. Kami perlu juga sesekali duduk di depan
TV tertawa tawa menonton film komedi atau lebih memilih melihat bintang bintang
daripada menyelesaikan masalah kami. Kami bukan malaikat yang diciptkan selalu
dalam keadaan baik. Dan maaf, kami akui terkadang kami jatuh terlalu jauh .
Yang ingin kukatakan pada kalian adalah:
jangan benci kami!
Aku ingin kalian tahu bahwa surat ini tak lebih dari pernyataan
agar kalian tahu kondisi kami. Kondisiku, sebenarnya. Aku juga ingin kalian membujuk Bill atau
minimal berdoa agar Bill bisa tersenyum bahagia. Senyumnya adalah harapan kami.
Setidaknya jika dia tersenyum – tidak dengan sinis- pada kami, kami bisa
kembali percaya diri. Bahwa kami pun bisa mendekati Sempurna. Mungkin kapak ini
bisa kami tambal sedikit.
Tolong jangan benci kami!
Dan berilah kami harapan.
Generasi berikut, maaf atas segala kesalahan kami, kemanusiawian
kami, serta semua kebudayaan yang sebenarnya sangat tak pantas dijadikan
budaya. Tolong -sekali lagi kukatakan- jangan benci kami dan berilah kami
sedikit harapan. Semoga Dunia benar benar bisa menjadi lebh baik. Semoga Tuhan
menunjuki kami dan kalian. Amin
Dr. Watson
No comments:
Post a Comment