Secret Garden!
Pernah tidak kau melihat perang? Bukan dari
TV tapi yang langsung dengan kedua mata kepalamu? Pernah? Aku pernah. Beberapa
hari lalu aku berkunjung ke Timur Tengah. Aku tidak tahu kenapa aku kesitu
kemarin. Maksudku aku tahu di situ sedang perang dan aku sama sekali tak punya
kepentingan dengan perang itu. Yang jelas aku begitu saja pergi selesai membaca
buku dongeng seribu satu malam.
Kau tahu suasana perang sangat mengerikan.
Sungguh aku menyesal telah melihatnya. Suasananya bahkan lebih mengerikan
daripada menemukan mayat orang bunuh diri plus hantunya. Jauh lebih mengerikan
daripada melihat foto kepalaku dengan tunas biji duren di dalamnya. Kau tahu,
begitu kau tiba di sana kau akan melihat jutaan Dewa Kematian. Kau akan merasa
hidupmu sudah tamat. Semua yang ada di situ pasti merasa begitu. Kecuali tentu
saja para pemimpin busuk yang mencetuskan perang itu. yang setiap kali datang
ke situ pasti dilapisi tujuh juta bodyguard , tank, panser, pesawat tempur,
radar, ranjau dan lain sebagainya. Huh mereka pikir mereka Cuma bisa mati kalau
di tembus peluru. Kuharap mereka tak sengaja menyentuh kabel listrik telanjang
berkekuatan tinggi. Kuharap begitu. Mungkin ini terdengar seperti kutukan.
Baiklah, kuakui aku memang mengutuk mereka begitu. Mereka pantas buat itu. aku
kesal melihat tawa mereka di padang golf tempo hari sementara perang sedang
berkecamuk.
Dan sekarang beberapa hari setelah
kunjunganku ke Timur Tengah itu, masih bisa kudengar dentuman keras juga
desingan peluru. Masih bisa kucium bau anyir kematian yang sepertinya menempel
tepat di ujung hidungku. Masih kulihat juga langit merah hitam menyala di
kepalaku. Dan itu semua berbaur jadi satu dengan tawa para pemimpin busuk di
padang golf tempo hari. Dan gara gara itu penyakitku kumat lagi. Kepalaku bukan
main sakit. Sebentar lagi aku akan berubah menjadi monster durian ukuran
raksasa. Jangan tertawa! Ini serius. Sama sekali bukan lelucon. Dan karena aku
tak mau ada orang yang melihatku dalam keadaan begini aku terpaksa bersembunyi
di sini. Secret Garden. Dimana tak aka nada seorang pun yang melihatku. Yah aku
yakin keberadaan mereka tak akan menolong. Melihatku dalam keadaan susah mereka
mungkin justru akan tertawa, mengejekku habis-habisan atau malah menjauhiku.
Mungkin kau juga seperti mereka. Terserah!
Kepalaku benar-benar sakit. Begitu sakit
hingga tak kusadari sebuah pesawat jet menembus hutan tempatku sembunyi dan
hampir membunuhku. Aku tak tahu bagian mana, yang jelas suatu bagian pesawat
itu mendorongku hingga jatuh. Beruntung tepat di depanku adalah sebuah danau.
Jadi musibah yang kuderita tak lebih dari basah dan sedikit kedinginan.
Yang selanjutnya terjadi adalah kulihat
bagian ekor pesawat yang pelan-pelan mulai tenggelam ke dalam danau. Aku tak
tahu kenapa. Tiba-tiba saja aku berenang ke arah pesawat itu. aku tak tahu
kenapa tiba-tiba saja aku berpikir bahwa pasti ada sesuatu atau lebih tepatnya
seseorang yang perlu ku selamatkan.
Inilah salah satu kelemahanku. Aku tak
pernah percaya apalagi percaya dengan manusia manapun. Tapi aku tak tahu kenapa
aku tak pernah benar-benar berhasil untuk tak peduli pada mereka. Kau tahu,
semua orang yang kutemui selalu berhasil membuatku kecewa. Selalu!
Kuraba-raba badan pesawat. Aku berhasil
membuka pintunya tapi tak kutemukan seorangpun di dalamnya. Aku kemudian
kehabisan nafas. Aku berenang ke permukaan. Kuhirup udara sebanyak-banyaknya
sebelum kemudian aku kembali menyelam. Kuulangi pencarian tapi tetap tak
kutemukan siapapun. Lalu, lagi-lagi aku kehabisan nafas. Maka aku kembali lagi
ke permukaan. Dan saat itulah kulihat dia –Kemungkinan Besar Si Pilot Pesawat
jet- ia sedang berusaha mengapung di permukaan danau. Yah sepertinya dia tak
bisa berenang. Aku ingin membantunya tapi tepat di atas kepalanya kulihat bulan
bulat besar menggantung. Warnanya putih dengan cincin pelangi mengelilinginya.
Ada banyak bintang juga di langit. Banyak. Sangat banyak. Seperti ketombe di
blazer hitam Dokter Watson. Ada juga awan yang bergerak perlahan. Sangat
perlahan. Melihat mereka aku pun tersenyumlah. Ada sedikit lega di kepala. Yah,
hal inilah yang selalu Alam lakukan padaku. Aku tak tahu kenapa tapi beginilah
yang terjadi padaku setiap kali kulihat dia. Seperti apel yang terkena efek
gravitasi saat dia di bumi. Lalu rumus apa yang bisa menggambarkan hubunganku
dengan Alam.
Beberapa detik kemudian aku tersadar. Aku
teringat pada kemungkinan besar si pilot pesawat jet. Tak kulihat lagi dia di
sekitarku. Kupandangi segala penjuru
tetap saja tak kutemukan dia. Aku hampir putus asa. Tiba-tiba kulihat
sebuah kepala menyembul di tengah-tengah danau. Aku segera menghampirinya.
*****
Yang Kemungkinan Besar Si Pilot Pesawat Jet
lakukan begitu siuman adalah meninju pipi kiriku, pipi kananku lalu perut dan
kemudian begitu aku tertunduk dia memukul punggungku. Aku tak tahu karena apa
dan aku sama sekali tak peduli sama sekali akan hal itu. Bagaimana aku bisa
peduli? Tinjuannya kurasa dahsyat. Dalam sekejap rasa sakit menjalar ke sekujur
tubuhku.
“WHY DID YOU BRING ME HERE?” teriaknya
sambil mengguncang-guncang badanku. Dia kemudian kembali memukuliku. Aku sama
sekali tak kuasa menangkis serangannya. Seluruh tubuhku benar-benar sakit. Aku
Cuma meringis sambil sesekali tertawa. Yah aku benar benar tertawa. Kau mau
tahu kenapa aku tertawa? Yah tentu saja karena ada sesuatu yang lucu. Aku tak
perlu menginterogasi lebih jauh untuk mengetahui bahwa laki-laki ini berniat
bunuh diri. Kata-kata “why did you bring me here?” menegaskan bahwa lelaki ini
marah padaku karena aku menyelamatkannya dari usahanya sendiri untuk bunuh
diri. Ditambah lagi dengan aksi pemukulannya atasku. Tapi aksi pemukulannya ini
bukan bentuk kekesalannya padaku karena membatalkan aksi bunuh dirinya.
Melainkan bentuk kemarahannya atas masalah-masalah yang menyebabkannya berniat
bunuh diri. Yah, meskipun dia tak mengatakannya, hal itu terlihat jelas bagiku.
Dan yang lucu bagiku adalah bahwa sebenarnya laki-laki ini tak benar-benar
ingin bunuh diri. Kalau dia benar-benar ingin bunuh diri kenapa dia harus
repot-repot keluar dari pesawat lalu berusaha mati-matian mempertahankan
kepalanya di atas permukaan danau? Satu orang tolol lagi yang berhasil
membuatku tertawa.
Aku tak peduli karena dia lelah atau
jengkel pada responku atas kemarahannya. Yang jelas si pilot tolol ini mulai
berhenti memukuliku. Dia kemudian mulai berjongkok di depanku lalu mulai
menangis tersedu-sedu.
Bulan bulat besar mengintip dari balik
rindangnya pohon. Masih ada juga cincin pelangi mengelilinginya. Bintang berhamburan.
Jumlahnya tak terkira. Awan bergerak-gerak perlahan. Danau di bawahnya begitu
tenang. Sangat tenang. Tak tampak ada tanda-tanda sebuah pesawat jet baru saja
jatuh dan tenggelam di dalamnya. Selebihnya yang kulihat hanya remang yang sama
sekali jauh dari kesan menakutkan karena sesekali tampak kunang-kunang di
antara remang-remang itu. kunang-kunang itu akhirnya muncul juga. Pemandangan
yang indah. Dan kunikmati pemandangan indah ini ditemani tangis si pilot yang
gagal bunuh diri. Menyadari hal ini aku tertawa sendiri. Si pilot menatapku
keheranan. Dia masih menangis.
“Mukamu jelek sekali. Hahaha…” kataku
sambil tertawa. Mukanya memang sangat jelek sekali saat menangis begitu.
“Hey, what’s your name, bud?” tanyaku
kemudian.
Aku tak tahu kenapa yang jelas tiba tiba
namanya menjadi hal yang sangat penting bagiku. Karena laki laki ini diam saja
tak menjawab, maka aku bertanya sekali lagi.
“Siapa kamu? I mean what’s your name?”
Laki laki ini masih tak menjawab. Dia hanya
menundukkan wajahnya.
“Are you deaf? I’m asking you. What’s your
name?” tanyaku mulai ketus.
Aku menunggu lama. Tapi laki laki ini masih
diam saja. Aku mulai kesal.
“WHAT’S YOUR NAME HEY?” teriakku. Seperti
yang kubilang tadi. Aku tak tahu kenapa. Aku merasa sangat sangat perlu
mengetahui namanya.
“WHAT’S YOUR NAME HEY YOU DEAF!” teriakku
lagi.
“Laki laki ini benar benar tuli” pikirku.
Aku pun mulai bangkit dan tertatih tatih menghampirinya. Kutarik lengan
bajunya. Aku tahu aku bisa menemukan namanya yang tertulis di dada seragam
tentaranya. Laki laki ini tak mau, tapi aku terus memaksa. Aku tak tahu kenapa
namanya menjadi hal yang sangat penting bagiku. Aku terus saja berteriak,
“WHAT’S YOUR NAME? I’M ASKING YOU, WHAT’S YOUR NAME HEY f**KING DEAF” Dan ini
kulakukan berulang kali.
Si pilot cengeng ini kemudian mulai
berontak. Sambil menangis tersedu sedu dia berusaha melepaskan diri dariku.
Belakangan dia berhasil mendorongku hingga jatuh. Dia kemudian mundur beberapa
meter. Sepertinya dia ketakutan. Tebak! Dia takut dengan ku. Ada rasa geli waktu
aku berpikir begitu. Tapi aku sama sekali tak ingin tersenyum. Sementara si
pilot cengeng ini menangis makin keras. Tapi, perasaan ingin tahuku yang besar
tentang namanya masih belum berkurang sedikitpun. Aku kembali bangkit
menghampirinya kemudian. Dalam remang remang sempat kulihat mimik wajahnya yang
ketakutan. Dia hampir saja lari sebelum aku teriak.
“I just want to know your name idiot!”
“What for?”
“Just tell me your name!”
Si pilot bodoh ini tak langsung memberitahu
namanya. Dia masih diam sambil sesekali sesenggukan. Dia menatapku ketakutan.
“What’re you looking at?” kataku ketus.
Si pilot bodoh ini masih tak menjawab.
Hanya saja tangisannya kemudian terdengar lebih nyaring.
“Huuu.. huuu..huuuu”
“You make me sick!” kataku jijik.
Aku mulai maju mendekatinya.
“if you’re not gonna tell me your name, I’ll
find it by my self.
“Joel. It is Joel. My name is Joel”
jawabnya seketika
Ada sedikit rasa lega setelah dia menyebut
namanya. Mungkin bisa kau sebut rasa puas. Yah karena apa yang kuinginkan
tercapai. Tapi aku sama sekali tak ingin tersenyum. Pilot bodoh ini masih
menangis. Aku berjalan ke arahnya.
“What do you want? I’ve told you my name
already!” teriaknya ketakutan.
Aku tak peduli. Aku terus berjalan ke
arahnya. Dia mulai tampak ketakutan. Tapi dia tak bergerak sedikitpun dari
tempatnya. Yang dia lakukan Cuma menatapku ketakutan.Yah, tak ada yang lebih.
Cuma itu. Dasar pilot bodoh! Melihatnya aku aku ingin tertawa. Kali ini aku tak
mampu menahan ketawaku. Jadi aku tertawa sejadi jadinya kemudian.
“Are you scare to me?” tanyaku sambil
tertawa tawa.
Aku merasa hal ini sangat lucu. Benar benar
lucu. Apa yang dia takutkan dariku. Aku Cuma sebuah atau seekor monster durian
(beri aku solusi! Mana yang harus kupilih? Untuk monster durian seharusnya
menggunakan seekor atau sebuah? Ah persoalan pemilihan kata yang bodoh!). Dan
itu sama sekali tidak menakutkan. Apa yang menakutkan dari sebuah monster
durian. Kemudian aku mulai berpikir kalau dia pikir aku seorang kanibal.
“I’m not a cannibal.”
Lalu aku mulai menjelaskan alasan alasan
kenapa aku tadi menyerangnya. Aku tak tahu kenapa aku merasa perlu menjelaskan
pada pilot bodoh ini.
“You shouldn’t be scare to me. I’m a kinda
guy that can be so irritated when I don’t get what I want. Yeah, that’s me!”
Pilot cengeng ini diam tak berkomentar.
“OK, I admit that. I admit that it was a
bit scarry for people that never know me. Yeah, a stranger like you. But you
shouldn’t be scare to me”
Seiring tawaku yang mulai reda, mimik
ketakutan dari wajahnya pun berkurang. Tapi aku benar benar baru selesai
tertawa begitu aku sampai di belakangnya. Aku menemukan sebuah batu besar dan
mulai duduk di situ. Dari situ pemandangan danau mencuri lagi pikiranku. Aku begitu
saja tenggelam dalam pemandangan malam yang indah di danau ini, my secret
garden.
Tapi suasanya hikmat yang kurasakan segera
hilang karena si pilot bodoh ini terus membuat suara suara gaduh juga gerakan
gerakan aneh kemudian. Aku tak tahu apa. Aku tepat di belakangnya.
“What are you doing there? Giving a birth?”
bentakku
“Wuddaya care?”
Rupanya pilot bodoh ini sudah mulai berani
membentakku. Aku tak menyangka keberanian bisa begitu cepat menghinggapinya.
Kutatap saja dia kesal.
Dia lalu mulai beranjak dari tempat
duduknya. Dia berdiri lalu mulai berjalan menjauhiku. Kupandangi saja ia. Dia
berhenti di sebuah batu lalu duduk di atas batu itu. Masih kupandangi dia dan
sepertinya dia menyadari hal itu. Dia tiba tiba menatapku lalu membentakku
“what are your f**king eyes looking at?”
bentaknya. “My ass?!!??” tambahnya.
Ingin kutinju mulutnya selesai dia bicara
begitu. Tapi aku tak melakukan apapun. Aku cuma berkata dengan sangat pelan.
“I’m looking at your super idiot brain
right there at your ass! Do you mind?”
Aku bertaruh dia pasti sangat kesal. Dia
berusaha menutupinya. Dia mulai merebahkan badannya ke belakang. Dia bergerak
dengan sangat cepat. Aku yakin 100% dia ingin menyandarkan badannya ke batu
yang agak lebih besar di belakangnya. Hanya saja dia begitu bodoh. Dia tak
memperkirakan kalau batu itu terlalu jauh darinya. Dia jatuh kemudian.
kepalanya menghantam batu itu dengan suara TOK yang keras. Aku tertawa
terpingkal pingkal melihatnya. Dia berguling guling di tanah sambil memegangi
kepalanya.
“You’re super idiot!” kataku sambil
tertawa.
Aku benar benar tak menduga aku bertemu
badut konyol ini di sini. Aku benar benar tak menduga aku bisa tertawa
terpingkal pingkal malam ini. Aku datang ke sini untuk menyendiri. Kau sudah
kuberitahu tadi, kan! Kupikir aku akan sepenuhnya menjadi monster durian malam
ini. Kupikir begitu! Tapi badut konyol ini datang dan merubah semua dugaanku.
Dan sekarang kurasa aku sedang sangat kesakitan sama seperti dia. Bukan karena
masalah transformasiku menjadi monster durian. Perutku benar benar sakit karena
menertawakan kebodohannya.
“It’s not funny! It’s not funny at all!”
“Yes. Of course it is. You’re even more
stupid than a clown.”
Aku bertaruh dia pasti malu berat padaku
atas kebodohannya. Dan sekarang dia pasti sedang berpikir mati-matian cara
menghapus segala kebodohannya dari memoriku. Pilot ini benar benar payah. Dia
memiliki semua sifat sifat paling jelak yang ada di dunia. Manusia gagal.
Pantas kalau dia ingin bunuh diri.
Yang selanjutnya terjadi adalah mulai kudengar
manusia gagal ini marah marah. Dia memaki maki batu yang di hantamnya tadi
bertubi tubi, seolah batu itu tak terima dengan perkataannya dan balas
memakinya. Aneh! Atau mungkin manusia bodoh ini mengerti bahasa batu. Yah, itu
bisa saja terjadi
Kemudian kulihat dia menarik tali sepatunya
yang tersangkut di akar pohon dengan paksa. Dia berdiri lalu menarik sepatunya
tapi tali itu tetap tak mau lepas. Setelah mengumpat, dia memukul mukul akar
pohon sampai putus lalu melempar akar pohon itu jauh jauh ke tengah danau.
“Are you studying to be insane?”
komentarku.
“Yes, I am! What do you care?”
Aku tak menjawab. Aku Cuma menghembus nafas
dalam dalam lalu membuangnya. Kepalaku sudah tak sesakit tadi. Kupandangi
langit malam lekat lekat. Bulan bulat besar masih bergantung. Sedikit berpindah dari tempatnya semula. Bintang
bintang mengikuti. Awan berubah bentuk. Langit yang indah. Dunia yang indah.
“Hey Joell!” kataku, “Look at the sky! The
sky is one of many reasons for you not to suicide. That white full moon. That
sparkling stars. That pretty dark nite sky.”
Aku tak tahu kenapa, tapi Joel mengikuti
saja nasehatku melihat langit. Aku terus saja bicara.
“That beautiful sky is one of many reasons
for us not to leave this crumby world whatever it does to us.”
“Wuddaya mean? Do you mean I’m here right
now because I want to commit suicide? That’s crazy!”
“Death is not the best way to deal with
this sucking life.”
“It was just an accident. My aircraft
was...”
“What?” potongku “A stupid like you! You don’t
even know how to close your gas tank.”
Joel diam tak berkomentar.
“Listen!”
Ada yang ingin kukatakan pada si bodoh Joel.
Sesuatu yang tadi siap ku keluarkan dari kepalaku tapi sekarang hilang entah kemana.
Mataku dan mata Joel ini saling berpandangan kemudian. Aku tahu dia sedang
menunggu kalimatku berikutnya.
“Listen!” ulangku untuk menutupi
kebodohanku. Tapi sepertinya Joel mulai curiga padaku. Kulihat alis kirinya
yang mulai melengkung kebawah sementara alis kanannya melengkung naik ke atas.
Kami diam lama. Aku benar benar merasa bodoh.
“Listen!” kataku sekali lagi “we can face
this crazy world together, OK! This world is indeed sucking and crazy. It
sometimes makes us feel... Feel like we need to leave it. But it is no need. If
we have a kind of… well you may call it an angel. The one who understand your
feeling and thinking. who has the same idea about this world. Well, I’m Bill.
You may admit me as your angel. I’m fine with that.”
Ide tentang malaikat ini benar benar
konyol. Bukan hal ini sebenarnya yang ingin kukatakan tadi. Sungguh! Ide konyol
ini tiba tiba saja masuk ke dalam otakku dan berhasil merusak reputasiku di
depan Joel, si pilot idiot. Dia memandangiku seolah aku adalah makhluk paling
menjijikkan yang pernah dia temui. Yah kuakui mengangkat diri sendiri sebagai
malaikat bagi orang lain adalah hal yang menjijikkan. Paling menjijikkan
mungkin
“Friend” katanya tiba tiba. “Maybe this is the
exact word instead of angel.”
“Yeah friend.”

No comments:
Post a Comment