Tuesday, March 20, 2012

secret garden


Secret Garden!
Pernah tidak kau melihat perang? Bukan dari TV tapi yang langsung dengan kedua mata kepalamu? Pernah? Aku pernah. Beberapa hari lalu aku berkunjung ke Timur Tengah. Aku tidak tahu kenapa aku kesitu kemarin. Maksudku aku tahu di situ sedang perang dan aku sama sekali tak punya kepentingan dengan perang itu. Yang jelas aku begitu saja pergi selesai membaca buku dongeng seribu satu malam.
Kau tahu suasana perang sangat mengerikan. Sungguh aku menyesal telah melihatnya. Suasananya bahkan lebih mengerikan daripada menemukan mayat orang bunuh diri plus hantunya. Jauh lebih mengerikan daripada melihat foto kepalaku dengan tunas biji duren di dalamnya. Kau tahu, begitu kau tiba di sana kau akan melihat jutaan Dewa Kematian. Kau akan merasa hidupmu sudah tamat. Semua yang ada di situ pasti merasa begitu. Kecuali tentu saja para pemimpin busuk yang mencetuskan perang itu. yang setiap kali datang ke situ pasti dilapisi tujuh juta bodyguard , tank, panser, pesawat tempur, radar, ranjau dan lain sebagainya. Huh mereka pikir mereka Cuma bisa mati kalau di tembus peluru. Kuharap mereka tak sengaja menyentuh kabel listrik telanjang berkekuatan tinggi. Kuharap begitu. Mungkin ini terdengar seperti kutukan. Baiklah, kuakui aku memang mengutuk mereka begitu. Mereka pantas buat itu. aku kesal melihat tawa mereka di padang golf tempo hari sementara perang sedang berkecamuk.
Dan sekarang beberapa hari setelah kunjunganku ke Timur Tengah itu, masih bisa kudengar dentuman keras juga desingan peluru. Masih bisa kucium bau anyir kematian yang sepertinya menempel tepat di ujung hidungku. Masih kulihat juga langit merah hitam menyala di kepalaku. Dan itu semua berbaur jadi satu dengan tawa para pemimpin busuk di padang golf tempo hari. Dan gara gara itu penyakitku kumat lagi. Kepalaku bukan main sakit. Sebentar lagi aku akan berubah menjadi monster durian ukuran raksasa. Jangan tertawa! Ini serius. Sama sekali bukan lelucon. Dan karena aku tak mau ada orang yang melihatku dalam keadaan begini aku terpaksa bersembunyi di sini. Secret Garden. Dimana tak aka nada seorang pun yang melihatku. Yah aku yakin keberadaan mereka tak akan menolong. Melihatku dalam keadaan susah mereka mungkin justru akan tertawa, mengejekku habis-habisan atau malah menjauhiku. Mungkin kau juga seperti mereka. Terserah!




Kepalaku benar-benar sakit. Begitu sakit hingga tak kusadari sebuah pesawat jet menembus hutan tempatku sembunyi dan hampir membunuhku. Aku tak tahu bagian mana, yang jelas suatu bagian pesawat itu mendorongku hingga jatuh. Beruntung tepat di depanku adalah sebuah danau. Jadi musibah yang kuderita tak lebih dari basah dan sedikit kedinginan.
Yang selanjutnya terjadi adalah kulihat bagian ekor pesawat yang pelan-pelan mulai tenggelam ke dalam danau. Aku tak tahu kenapa. Tiba-tiba saja aku berenang ke arah pesawat itu. aku tak tahu kenapa tiba-tiba saja aku berpikir bahwa pasti ada sesuatu atau lebih tepatnya seseorang yang perlu ku selamatkan.
Inilah salah satu kelemahanku. Aku tak pernah percaya apalagi percaya dengan manusia manapun. Tapi aku tak tahu kenapa aku tak pernah benar-benar berhasil untuk tak peduli pada mereka. Kau tahu, semua orang yang kutemui selalu berhasil membuatku kecewa. Selalu!

Kuraba-raba badan pesawat. Aku berhasil membuka pintunya tapi tak kutemukan seorangpun di dalamnya. Aku kemudian kehabisan nafas. Aku berenang ke permukaan. Kuhirup udara sebanyak-banyaknya sebelum kemudian aku kembali menyelam. Kuulangi pencarian tapi tetap tak kutemukan siapapun. Lalu, lagi-lagi aku kehabisan nafas. Maka aku kembali lagi ke permukaan. Dan saat itulah kulihat dia –Kemungkinan Besar Si Pilot Pesawat jet- ia sedang berusaha mengapung di permukaan danau. Yah sepertinya dia tak bisa berenang. Aku ingin membantunya tapi tepat di atas kepalanya kulihat bulan bulat besar menggantung. Warnanya putih dengan cincin pelangi mengelilinginya. Ada banyak bintang juga di langit. Banyak. Sangat banyak. Seperti ketombe di blazer hitam Dokter Watson. Ada juga awan yang bergerak perlahan. Sangat perlahan. Melihat mereka aku pun tersenyumlah. Ada sedikit lega di kepala. Yah, hal inilah yang selalu Alam lakukan padaku. Aku tak tahu kenapa tapi beginilah yang terjadi padaku setiap kali kulihat dia. Seperti apel yang terkena efek gravitasi saat dia di bumi. Lalu rumus apa yang bisa menggambarkan hubunganku dengan Alam.
Beberapa detik kemudian aku tersadar. Aku teringat pada kemungkinan besar si pilot pesawat jet. Tak kulihat lagi dia di sekitarku. Kupandangi segala penjuru  tetap saja tak kutemukan dia. Aku hampir putus asa. Tiba-tiba kulihat sebuah kepala menyembul di tengah-tengah danau. Aku segera menghampirinya.
*****
Yang Kemungkinan Besar Si Pilot Pesawat Jet lakukan begitu siuman adalah meninju pipi kiriku, pipi kananku lalu perut dan kemudian begitu aku tertunduk dia memukul punggungku. Aku tak tahu karena apa dan aku sama sekali tak peduli sama sekali akan hal itu. Bagaimana aku bisa peduli? Tinjuannya kurasa dahsyat. Dalam sekejap rasa sakit menjalar ke sekujur tubuhku.
“WHY DID YOU BRING ME HERE?” teriaknya sambil mengguncang-guncang badanku. Dia kemudian kembali memukuliku. Aku sama sekali tak kuasa menangkis serangannya. Seluruh tubuhku benar-benar sakit. Aku Cuma meringis sambil sesekali tertawa. Yah aku benar benar tertawa. Kau mau tahu kenapa aku tertawa? Yah tentu saja karena ada sesuatu yang lucu. Aku tak perlu menginterogasi lebih jauh untuk mengetahui bahwa laki-laki ini berniat bunuh diri. Kata-kata “why did you bring me here?” menegaskan bahwa lelaki ini marah padaku karena aku menyelamatkannya dari usahanya sendiri untuk bunuh diri. Ditambah lagi dengan aksi pemukulannya atasku. Tapi aksi pemukulannya ini bukan bentuk kekesalannya padaku karena membatalkan aksi bunuh dirinya. Melainkan bentuk kemarahannya atas masalah-masalah yang menyebabkannya berniat bunuh diri. Yah, meskipun dia tak mengatakannya, hal itu terlihat jelas bagiku. Dan yang lucu bagiku adalah bahwa sebenarnya laki-laki ini tak benar-benar ingin bunuh diri. Kalau dia benar-benar ingin bunuh diri kenapa dia harus repot-repot keluar dari pesawat lalu berusaha mati-matian mempertahankan kepalanya di atas permukaan danau? Satu orang tolol lagi yang berhasil membuatku tertawa.
Aku tak peduli karena dia lelah atau jengkel pada responku atas kemarahannya. Yang jelas si pilot tolol ini mulai berhenti memukuliku. Dia kemudian mulai berjongkok di depanku lalu mulai menangis tersedu-sedu.
Bulan bulat besar mengintip dari balik rindangnya pohon. Masih ada juga cincin pelangi mengelilinginya. Bintang berhamburan. Jumlahnya tak terkira. Awan bergerak-gerak perlahan. Danau di bawahnya begitu tenang. Sangat tenang. Tak tampak ada tanda-tanda sebuah pesawat jet baru saja jatuh dan tenggelam di dalamnya. Selebihnya yang kulihat hanya remang yang sama sekali jauh dari kesan menakutkan karena sesekali tampak kunang-kunang di antara remang-remang itu. kunang-kunang itu akhirnya muncul juga. Pemandangan yang indah. Dan kunikmati pemandangan indah ini ditemani tangis si pilot yang gagal bunuh diri. Menyadari hal ini aku tertawa sendiri. Si pilot menatapku keheranan. Dia masih menangis.
“Mukamu jelek sekali. Hahaha…” kataku sambil tertawa. Mukanya memang sangat jelek sekali saat menangis begitu.
“Hey, what’s your name, bud?” tanyaku kemudian.
Aku tak tahu kenapa yang jelas tiba tiba namanya menjadi hal yang sangat penting bagiku. Karena laki laki ini diam saja tak menjawab, maka aku bertanya sekali lagi.
“Siapa kamu? I mean what’s your name?”
Laki laki ini masih tak menjawab. Dia hanya menundukkan wajahnya.
“Are you deaf? I’m asking you. What’s your name?” tanyaku mulai ketus.
Aku menunggu lama. Tapi laki laki ini masih diam saja. Aku mulai kesal.
“WHAT’S YOUR NAME HEY?” teriakku. Seperti yang kubilang tadi. Aku tak tahu kenapa. Aku merasa sangat sangat perlu mengetahui namanya.
“WHAT’S YOUR NAME HEY YOU DEAF!” teriakku lagi.
“Laki laki ini benar benar tuli” pikirku. Aku pun mulai bangkit dan tertatih tatih menghampirinya. Kutarik lengan bajunya. Aku tahu aku bisa menemukan namanya yang tertulis di dada seragam tentaranya. Laki laki ini tak mau, tapi aku terus memaksa. Aku tak tahu kenapa namanya menjadi hal yang sangat penting bagiku. Aku terus saja berteriak, “WHAT’S YOUR NAME? I’M ASKING YOU, WHAT’S YOUR NAME HEY f**KING DEAF” Dan ini kulakukan berulang kali.
Si pilot cengeng ini kemudian mulai berontak. Sambil menangis tersedu sedu dia berusaha melepaskan diri dariku. Belakangan dia berhasil mendorongku hingga jatuh. Dia kemudian mundur beberapa meter. Sepertinya dia ketakutan. Tebak! Dia takut dengan ku. Ada rasa geli waktu aku berpikir begitu. Tapi aku sama sekali tak ingin tersenyum. Sementara si pilot cengeng ini menangis makin keras. Tapi, perasaan ingin tahuku yang besar tentang namanya masih belum berkurang sedikitpun. Aku kembali bangkit menghampirinya kemudian. Dalam remang remang sempat kulihat mimik wajahnya yang ketakutan. Dia hampir saja lari sebelum aku teriak.
“I just want to know your name idiot!”
“What for?”
“Just tell me your name!”
Si pilot bodoh ini tak langsung memberitahu namanya. Dia masih diam sambil sesekali sesenggukan. Dia menatapku ketakutan.
“What’re you looking at?” kataku ketus.
Si pilot bodoh ini masih tak menjawab. Hanya saja tangisannya kemudian terdengar lebih nyaring.
“Huuu.. huuu..huuuu”
“You make me sick!” kataku jijik.
Aku mulai maju mendekatinya.
“if you’re not gonna tell me your name, I’ll find it by my self.
“Joel. It is Joel. My name is Joel” jawabnya seketika
Ada sedikit rasa lega setelah dia menyebut namanya. Mungkin bisa kau sebut rasa puas. Yah karena apa yang kuinginkan tercapai. Tapi aku sama sekali tak ingin tersenyum. Pilot bodoh ini masih menangis. Aku berjalan ke arahnya.
“What do you want? I’ve told you my name already!” teriaknya ketakutan.
Aku tak peduli. Aku terus berjalan ke arahnya. Dia mulai tampak ketakutan. Tapi dia tak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Yang dia lakukan Cuma menatapku ketakutan.Yah, tak ada yang lebih. Cuma itu. Dasar pilot bodoh! Melihatnya aku aku ingin tertawa. Kali ini aku tak mampu menahan ketawaku. Jadi aku tertawa sejadi jadinya kemudian.
“Are you scare to me?” tanyaku sambil tertawa tawa.
Aku merasa hal ini sangat lucu. Benar benar lucu. Apa yang dia takutkan dariku. Aku Cuma sebuah atau seekor monster durian (beri aku solusi! Mana yang harus kupilih? Untuk monster durian seharusnya menggunakan seekor atau sebuah? Ah persoalan pemilihan kata yang bodoh!). Dan itu sama sekali tidak menakutkan. Apa yang menakutkan dari sebuah monster durian. Kemudian aku mulai berpikir kalau dia pikir aku seorang kanibal.
“I’m not a cannibal.”
Lalu aku mulai menjelaskan alasan alasan kenapa aku tadi menyerangnya. Aku tak tahu kenapa aku merasa perlu menjelaskan pada pilot bodoh ini.
“You shouldn’t be scare to me. I’m a kinda guy that can be so irritated when I don’t get what I want. Yeah, that’s me!”
Pilot cengeng ini diam tak berkomentar.
“OK, I admit that. I admit that it was a bit scarry for people that never know me. Yeah, a stranger like you. But you shouldn’t be scare to me”
Seiring tawaku yang mulai reda, mimik ketakutan dari wajahnya pun berkurang. Tapi aku benar benar baru selesai tertawa begitu aku sampai di belakangnya. Aku menemukan sebuah batu besar dan mulai duduk di situ. Dari situ pemandangan danau mencuri lagi pikiranku. Aku begitu saja tenggelam dalam pemandangan malam yang indah di danau ini, my secret garden.
Tapi suasanya hikmat yang kurasakan segera hilang karena si pilot bodoh ini terus membuat suara suara gaduh juga gerakan gerakan aneh kemudian. Aku tak tahu apa. Aku tepat di belakangnya.
“What are you doing there? Giving a birth?” bentakku
“Wuddaya care?”
Rupanya pilot bodoh ini sudah mulai berani membentakku. Aku tak menyangka keberanian bisa begitu cepat menghinggapinya. Kutatap saja dia kesal.
Dia lalu mulai beranjak dari tempat duduknya. Dia berdiri lalu mulai berjalan menjauhiku. Kupandangi saja ia. Dia berhenti di sebuah batu lalu duduk di atas batu itu. Masih kupandangi dia dan sepertinya dia menyadari hal itu. Dia tiba tiba menatapku lalu membentakku
“what are your f**king eyes looking at?” bentaknya. “My ass?!!??” tambahnya.
Ingin kutinju mulutnya selesai dia bicara begitu. Tapi aku tak melakukan apapun. Aku cuma berkata dengan sangat pelan.
“I’m looking at your super idiot brain right there at your ass! Do you mind?”
Aku bertaruh dia pasti sangat kesal. Dia berusaha menutupinya. Dia mulai merebahkan badannya ke belakang. Dia bergerak dengan sangat cepat. Aku yakin 100% dia ingin menyandarkan badannya ke batu yang agak lebih besar di belakangnya. Hanya saja dia begitu bodoh. Dia tak memperkirakan kalau batu itu terlalu jauh darinya. Dia jatuh kemudian. kepalanya menghantam batu itu dengan suara TOK yang keras. Aku tertawa terpingkal pingkal melihatnya. Dia berguling guling di tanah sambil memegangi kepalanya.
“You’re super idiot!” kataku sambil tertawa.
Aku benar benar tak menduga aku bertemu badut konyol ini di sini. Aku benar benar tak menduga aku bisa tertawa terpingkal pingkal malam ini. Aku datang ke sini untuk menyendiri. Kau sudah kuberitahu tadi, kan! Kupikir aku akan sepenuhnya menjadi monster durian malam ini. Kupikir begitu! Tapi badut konyol ini datang dan merubah semua dugaanku. Dan sekarang kurasa aku sedang sangat kesakitan sama seperti dia. Bukan karena masalah transformasiku menjadi monster durian. Perutku benar benar sakit karena menertawakan kebodohannya.
“It’s not funny! It’s not funny at all!”
“Yes. Of course it is. You’re even more stupid than a clown.”
Aku bertaruh dia pasti malu berat padaku atas kebodohannya. Dan sekarang dia pasti sedang berpikir mati-matian cara menghapus segala kebodohannya dari memoriku. Pilot ini benar benar payah. Dia memiliki semua sifat sifat paling jelak yang ada di dunia. Manusia gagal. Pantas kalau dia ingin bunuh diri.
Yang selanjutnya terjadi adalah mulai kudengar manusia gagal ini marah marah. Dia memaki maki batu yang di hantamnya tadi bertubi tubi, seolah batu itu tak terima dengan perkataannya dan balas memakinya. Aneh! Atau mungkin manusia bodoh ini mengerti bahasa batu. Yah, itu bisa saja terjadi
Kemudian kulihat dia menarik tali sepatunya yang tersangkut di akar pohon dengan paksa. Dia berdiri lalu menarik sepatunya tapi tali itu tetap tak mau lepas. Setelah mengumpat, dia memukul mukul akar pohon sampai putus lalu melempar akar pohon itu jauh jauh ke tengah danau.
“Are you studying to be insane?” komentarku.
“Yes, I am! What do you care?”
Aku tak menjawab. Aku Cuma menghembus nafas dalam dalam lalu membuangnya. Kepalaku sudah tak sesakit tadi. Kupandangi langit malam lekat lekat. Bulan bulat besar masih bergantung. Sedikit  berpindah dari tempatnya semula. Bintang bintang mengikuti. Awan berubah bentuk. Langit yang indah. Dunia yang indah.
“Hey Joell!” kataku, “Look at the sky! The sky is one of many reasons for you not to suicide. That white full moon. That sparkling stars. That pretty dark nite sky.”
Aku tak tahu kenapa, tapi Joel mengikuti saja nasehatku melihat langit. Aku terus saja bicara.
“That beautiful sky is one of many reasons for us not to leave this crumby world whatever it does to us.”
“Wuddaya mean? Do you mean I’m here right now because I want to commit suicide? That’s crazy!”
“Death is not the best way to deal with this sucking life.”
“It was just an accident. My aircraft was...”
“What?” potongku “A stupid like you! You don’t even know how to close your gas tank.”
Joel diam tak berkomentar.
“Listen!”
Ada yang ingin kukatakan pada si bodoh Joel. Sesuatu yang tadi siap ku keluarkan dari kepalaku tapi sekarang hilang entah kemana. Mataku dan mata Joel ini saling berpandangan kemudian. Aku tahu dia sedang menunggu kalimatku berikutnya.
“Listen!” ulangku untuk menutupi kebodohanku. Tapi sepertinya Joel mulai curiga padaku. Kulihat alis kirinya yang mulai melengkung kebawah sementara alis kanannya melengkung naik ke atas. Kami diam lama. Aku benar benar merasa bodoh.
“Listen!” kataku sekali lagi “we can face this crazy world together, OK! This world is indeed sucking and crazy. It sometimes makes us feel... Feel like we need to leave it. But it is no need. If we have a kind of… well you may call it an angel. The one who understand your feeling and thinking. who has the same idea about this world. Well, I’m Bill. You may admit me as your angel. I’m fine with that.”
Ide tentang malaikat ini benar benar konyol. Bukan hal ini sebenarnya yang ingin kukatakan tadi. Sungguh! Ide konyol ini tiba tiba saja masuk ke dalam otakku dan berhasil merusak reputasiku di depan Joel, si pilot idiot. Dia memandangiku seolah aku adalah makhluk paling menjijikkan yang pernah dia temui. Yah kuakui mengangkat diri sendiri sebagai malaikat bagi orang lain adalah hal yang menjijikkan. Paling menjijikkan mungkin
“Friend” katanya tiba tiba. “Maybe this is the exact word instead of angel.”
“Yeah friend.”

No comments:

Post a Comment