Monday, March 5, 2012

sandera


Jika kau membaca Koran akhir-akhir ini, kau pasti tahu cerita ini. Cerita tentang seseorang bernama Bill yang disandera penjarah took perhiasan 2 hari lalu. Yah aku lah dia. Seseorang berusia 12 tahun yang punya biji duren di kepala. Biji duren itu sekarang katanya sudah berakar di otakku. Jadi mungkin tak lama lagi kau bisa melihat tunas kecil mencuat di antara rambut hitamku.
Yah itu hanya untuk perkenalan. Sekarang aku akan membawamu kembali ke 2 hari lalu. Tapi bukan dengan mesin waktu. Jadi bersiaplah.



2 hari lalu 2 batu kecil masuk ke dalam kaus kakiku. Aku sudah tahu mmereka ada di situ menggigiti kakiku sejak pagi. Tapi kubiarkan saja. Saat itu sakit malasku sedang kumat. Aku benar-benar tak ingin melepaskan sepatuku hanya karena 2 batu konyol itu. Tapi kenyataan memaksaku merubah rencana. Saat kurasa matahari mulai membakar ubun-ubun kepalaku, kuputuskan membuang mereka. Aku tak mau tubuhku tiba-tiba meledak karena jengkel. Terik matahari saja sudah cukup membuatku gila. Dan dua batu kecil itu tak perlu membuatku makin gila.
Aku lalu berhenti di bawah pohon di depan pertokoan. Kubuka sepatu juga kaus kakiku. Waktu itu para penjarah itu sedang beraksi. Aku sempat dengar suara dor juga jeritan histeris. Tapi aku tak peduli. Aku tetap saja berhenti, lalu duduk di depan took itu. Yang aku pikirkan saat itu Cuma segera mengambil para batu sialan di dalam sepatuku lalu pergi dari tempat itu. Asal kau tahu, kata segera di sni bukan sebagai penunjuk bahwa aku takut. Aku sama sekal tidak takut. Aku Cuma tak ingin terlibat dengan mereka. Kalaupun seandainya penjarah itu tiba-tiba datang lalu menembak kepalaku, aku tak peduli. Aku tak takut mati. Aku 12 tahun, tapi aku siap mati kapan saja.
Tak lama kemudian kudengar suara sirine mobil. Suara yang mulanya kukira suara sirine mobil ambulan itu makin lama makin dekat ke arahku. Tapi akhirnya aku segera tahu kalau itu suara sirine mobil polisi karena tepat saat itu juga para penjarah itu mulai keluar dari toko. Satu persatu mereka berjalan melaluiku. Aku tak peduli. Aku diam saja. Aku cuma sekali saja mendongakkan kepalaku sambil memasang tali sepatu kiriku. Saat itu aku yakin sejuta persen mereka tak akan menggangguku. Tapi dugaanku ternyata meleset. Salah seorang dari mereka, yang berjalan paling belakang tiba-tiba meraih tanganku lalu teriak, 
“JANGAN MACAM-MACAM1 KAMI PUNYA SANDERA!”
Sandera? Saat itu aku tak langsung sadar tentang statusku sebagai sandera. Semuanya terjadi sangat cepat. Tak bisa kuhitung waktunya dengan tepat. Yang jelas tak lebih dari 1 menit sejak aku duduk di situ. Dan terus terang aku sangat terkejut. Laki-laki ini tiba-tiba saja mencengkeram tanganku dengan kuat. Badanku kemudian terhempas cepat ke tubuhnya. Jadi bagaimana bisa langsung kusadari bahwa aku lah Si Sandera itu?
Yang terjadi selanjutnya adalah polisi dan penjarah ini saling sahut menyahut. Tak jelas benar apa yang mereka bicarakan. Padahal aku berada sangat dekat dengan mereka. Bukan? Bukan sangat dekat! Tapi ditengah-tengah mereka. Kan aku sanderanya. Aku juga terlibat dalam hal ini. Kau mau tahu kenapa hal ini  terjadi? Maksudku hal kenapa pembicaraan antara polisi dan penyanderaku ini tak begitu jelas bagiku. Itu karena ada sesuatau yang tumbuh di kepalaku. Aku teringat pada semua film action yang sudah kutonton. Yah situasinya hamper sama. Dan aku benar-benar tak bisa berhenti mengingat film-film itu. Konyol bukan? Makanya begitu aku sadar aku langsung tertawa. Aku benar-benar tak menyangka hal ini terjadi padaku. Polisi-polisi itu tak tahu aku sedang tertawa. Mereka terlalu jauh. Laki-laki inilah yang mengetahuinya. Badanku bergetar hebat saat aku tertawa, sedang dia memegangiku. Selain itu aku tak bisa menyimpan suaranya, suara ketawaku walaupun sangat kecil. Jadi yang terjadi selanjutnya adalah laki-laki bertopeng ini menodongkan pistolnya ke kepalaku.
“DIAM BODOH!” bentaknya. Aku berusaha meredam ketawaku. “Kamu gila ya?” bentaknya lagi dengan nada heran.
Aku yakin dia anggap aku  orang aneh karena aku sama sekali tak menunjukkan ekspresi panic, takut apalagi menangis. Kau pasti tahu bagaimana biasanya ekspresi para sandera. Hampir sama seperti wanita-wanita tadi: melolong, meraung, gemetaran atau ada yang tiba-tiba mati. Yah mungkin karena sesutau yang tumbuh di kepalaku ini. Jadinya aaku tetap tenang-tenang saja.
“Saya ngerasa kayak main film, Om! Om nahan saya di sini, terus polisinya di sana. Keren banget Om! Kayak di TV.” Dengan jujur kuungkapkan isi kepalaku.
Aku tahu pada awalnya dia memperhatikan ucapanku, tapi waktu bicaraku mulai tak karuan, sepertinya dia mulai berlagak mengabaikanku. Aku tak peduli. Aku tetap saja bicara.
Om lihat mobil putih di sebelah toko jam itu nggak? Itu mobilnya wartawan, Om! Di dalamnya ada waratawan lagi nyuting kita. Hebatkan?”
Dia masih berlagak mengacuhanku. Yah seperti bicara dengan tembok. Yah tapi sekali lagi kukatakan, itu hanya lagak. Sebenarnya dia memperhatikan ucapanku. Dia cuma pura-pura tidak mendengar. Aku tahu itu. Kau akan tahu kenapa aku yakin akan hal ini.  Yah itulah manusia. Mereka semua sangat suka menyamar. Dan itu mereka lakukan hanya karena tak ingin dianggap remeh oleh manusia lain. Dan karena aku juga manusia, maka aku juga pernah melakukan hal serupa. Dan karena aku atahu bahwa manusia sangat suka menyamar, maka aku tak bisa seratus persaen percaya pada siapapun. Hanya saja aku sering memaksa orang lain untuk percaya padaku. Yah itulah salah satu kelemahanku. Kali ini kubiarkan kau mengetahuinya. Mungkin ini adalah awal bagiku untuk percaya pada manusia lain.
Om, lihat dua orang item di atap gedung itu? Lihat deh, Om! Mereka itu sniper, Om. Om tahu sniper kan? Sniper itu penembak jitu. Kalo Om berani macam-macam, Om langsung ditembak MATI DI TEMPAT!”
Tiga kata terakhir kuucapkan dengan pelan dan mantap. Aku berusaha menaku-nakutinya
“Jadi Om sebaiknya hati-hati deh! Soalnya aku bukan anak sembarangan.”
Sebenarnya sniper-sniper itu cuma bualanku saja. Aku cuma mengarang. Jadi sebaiknya kau jangan ikut percaya. Karena jika kau percaya maka kau ssma bodohnya dengan laki-laki yang menyanderaku ini. Dia langsung melihat ke atap gedung begitu aku selesai membual. Dan setelah itu nafasnya terdengar seperti gemuruh Tsunami. Aku merasa geli saat itu. Tak kusangka orang ini begitu mudah ditipu.
“Terus dengar suara-suara aneh ini nggak?” kataku lagi. “ Ini suara helicopter, Om. Di dalamnya ada…”
“DIAM BODOH!” bentaknya tiba-tiba. “ATAU KAMU YANG MATI DI TEMPAT!”
“Mau bunuh? Silahkan! Kalau aku mati, Om nggak punya sandera. Mereka bisa aja langsung nembak Om. Terus ceritanya ta…” 
kata terakhir adalah ‘tamat’. Tapi rupanya kalimatku belum boleh tamat. Sebab dia langsung memotong.
“DIAM ATAU….”
DORR! Dia menembak tong sampah di sebelah kami.
“Wow!” bukan kata yang tepat, tapi justru kata itulah yang terlontar dari mulutku. Dan jangan ditanya, aku kaget bukan main. Makanya seelah kata wow itu aku diam seribu bahasa. Bukan karena takut. Bau asap mesiu membuatku ingin muntah. Suara pistol itu benar-benar memekakkan telingaku. Tapi aku tak peduli. Sudah kukatakan padamu, aku merasa seperti jagoan di film action. Kau pasti tahu, tokoh jagoan di film manapun tak akan mati. Mereka selalu bertahan sampai film tamat, apapun yang terjadi.
Aku ingat, setelah si penyandera bertopeng ini menembak tong sampah, polisi-polisi itu mulai meneriakinya lagi. Kali ini aku mendengar suara mereka dengan sangat jelas. Hanya saja seperti biasa, aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Ada sesuatu yang tumbuh di kepalaku. Selesai mereka bicara kuungkapkan isi kepalaku pada laki-laki ini.
“Ndengerin Om teriak, aku jadi ingat pada seseorang.”
“Heh?”
Om tahu Bono, nggak?”
“Nggak!”
“Bono itu vokalis grup band besar asal UK. U2. Om tahu?”
“Nggak!”
“Suaranya mirip banget kayak Om. Om tahu lagu ini nggak?”
Aku pun lalu mulai menyanyikan beberapa lagu milik U2. Setiap satu lagu selesai kunyanyikan, dia selalu menjawab dengan “enggak!”
Saat aku melantunkan Elevation dia lalu berkata,
“Hey aku tahu lagu itu. Tapi yakin suaraku seperti dia?”
“Jangan ge-er ya Om? Soalnya aku nggak lagi muji. Tapi emang iya, kok!”
Bagian ini adalah bagian terlucu dari kisah penyaderaanku. Entah kami menjadi sangat akur saat itu . Dan asal kau, aku suka bagian itu. Saat aku dan penyenderaku ini menjadi sangat akur. Kami sempat mengobrol banyak tentang musik. Aku bahkan sempat menyarankan kepadanya agar dia menjadi penyanyi saja. Aku benar-benar suka bagian itu. Dunia seperti milik kami berdua saja. Polisi-polisi di depan kami seolah pajangan. Sekali lagi, aku suka bagian itu. Aku dan dia sempat tertawa-tawa. Bahkan kami sempat saling mengejek.
Aku tahu ini konyol, dan aku bertaruh kau pasti tak percaya ceritaku atau paling tidak menganggap aku gila, padahal ceritaku tamat. Apapun penilaianmu aku tak peduli. Sudah kukatakan padamu berkali-kali, ada yang tumbuh di kepalaku. Aku tak peduli seandainya dia tiba-tiba tersinggung lalu menembakku hingga mati. Sudah kukatakan padamu berkali-kali, aku sama sekali tak takut mati. Sama sekali tak takut.
Mungkin terasa aneh bagimu karena aku berulang kali menegaskan bahwa aku tak takut mati. Terus terang aku hanya ingin kau percaya bahwa apa yang kukatakan benar-benar dari hati juga akalku. Bahwa aku benar-benar tak takut mati. Bahwa aku siap mati kapan saja. Lebih dari itu, seandainya aku mati saat itu, aku justru senang. Karena itu berarti aku bisa meninggalkan dunia gila ini dengan semua orang konyol di dalamnya. Asal kau tahu. Setiap pagi aku selalu bangun dengan senyum. Aku selalu berharap bisa menemukan sesuatu yang lebih berarti dari sekedar permainan yang membosankan setiap hari. Kadang aku menemukannya, tapi selalu saja ada orang-orang bodoh yang mengacaukannya. Aku juga bodoh. Aku cuma bisa diam saat aku tahu ada sesuatau yang salah terjadi. Kadang-kadang aku malah ikut bermain. Yah itulah salah satu contoh kegagalanku. Tapi segalanya selalu berhasil kututupi. Terus terang aku letih.

Yang terjadi selanjutnya adalah keringat laki-laki ini mulai menetes di kepalaku. Di wajahku tepatnya. Aku sedang melihatnya ketika keringat itu tiba-tiba menetes ke atas wajahku. Kudengar degup jantungnya yang berpacu secepat kereta api. Kulihat mulutnya terbuka tertutup. Dia bicara sendiri. Dia panik.
“Ditinggal temannya ya, Om! Cuma nebak. Tapi aku tahu kok!” dia Cuma diam. “Tenang, Om! Buat penjahat kelas Paus kayak Om polisi bukan apa-apa kan Om?”
Dia tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya terus bicara sendiri.
“Bagaimana ini… bagaimana ini…” katanya dengan suara sangat lirih.
Mungkin dia tak berharap kata-kata itu terdengar olehku. Mungkin dia tak ingin aku tahu kalau dia bodoh. Mungkin dia juga berharap aku tidak tahu bahwa dia sangat mengecewakan. Harapannya hanyalah harapan karena aku tahu semuanaya. Waktu itu aku langsung kecewa.
“Yah, aku tahu! Kilat Cuma ada kalau mendung. Teman Cuma dating kalau butuh. Tapi nyantai aja Om! Beginilah dunia.”
Masalah ‘teman’ ini jangan kau anggap serius. Ini Cuma umpan buat penjarah ini saja agar dia mau bicara. Dan umpanku termakan, karena dia lalu bicara.
“Dasar anak kecil! Tahu apa kamu? Kecil-kecil ngomong dunia. Omonng kosong tahu!”
Mendengar bicaranya jantungku tiba-tiba berpacu kencang. Darahkmu rasanya meluap.
“Enak aja Om bilang aku anak kecil! Asal tahu aja Om, aku Cuma tidur 8 jam sehari. Aku pernah ketemu semua presiden dunia. Aku bisa bicara 50 bahasa dunia. Aku juga bisa nyetir mobil sendiri. Aku bukan anak kecil, Om! Ada lagi, aku memang tahu seluruh dunia. Gak semua memang! Tapi lebih tahu dari Om dan semua orang di bumi ini. ”
Omelanku yang panjang ini memang bukan omong kosong. Aku bicara benar. Aku terpaksa memamerkan  segala kemampuanku karena laki laki ini mengataiku ‘anak kecil’. Aku tak suka dipanggil anak kecil. Apalagi anak kecil yang tak tahu apa apa. Umur tak pernah menjamin pengetahuan atau kedewasaan seseorang. Dan asal kau tahu, aku memang termasuk orang paling jenius di muka bumi ini. Tak butuh waktu banyak buatku memecahkan soal aritmatika. Ilmu filsafat juga bukan masalah buatku. Bukannya sombong, tapi memang seperti itulah aku.

Setelah masalah anak kecil itu, aku diam, terus terang aku sangat jengkel. Aku tak suka dipanggil anak kecil. Dia piker dia tak pernah kecil. Dia piker dia begitu saja keluar dari perut ibunya dengan ukuran jumbo. Dia piker dia tak pernah berumur duabelas tahun. Oh aku tahu. Dia pastinya pernah berusia dua belas tahun, hanya saja dia masih terlalu bodoh pada saat itu.
Lima menit berlalu. Statusku tetap sebagai sandera. Penyaderaku masih tetap memegangiku. Masih kudengar juga degup jantungnya yang berpacu cepat. Aku tak tahu apa yang dia tunggu dia tak beranjak satu langkahpun dari tempat semula kami berdiri. Aku pun lalu bicara.
“Udah deh Om! Temen Om udah bener bener pergi. Mobil merah yang di ujung gang itu udah pergi dari tadi.”
Mobil merah yang kumaksud adalah mobil yang dipakai penjarah ini. Waktu mobil itu pergi aku langsung merasa kasihan pada laki laki yang menyanderaku ini. Tapi apa mau dikata. Dia memang sangat bodoh. Entah kenapa dia lebih memilih untuk menyanderaku daripada lari bersama teman-temannya. Padahal menurut perhitunganku, dia masih sempat kabur seandainya dia tak menahanku.
“Toko ini nyambung ke pasar Om! Kita bias jalan pelan pelan ke sana, terus Om bisa lari.”
Aku memang merasa kasihan. Tapi aku bicara begini bukan untuk menolongnya. Aku mulai bosan. Situasinya mulai tidak menarik. Lagi pula tenggorokanku mulai terasa kering. Aku tak mau menghabiskan waktuku bersama mereka hingga tubuhku sekering keripik kentang di padang pasir. Untungnya dia menurutiku. Pelan pelan kami berjalan melalui beberapa pohon , menuju lorong.
Aku berjalan di depannya, sementara ia berjalan menghimpit tembok pertokoan. Jadi seandainya para polisi itu menembaknya, dia bisa menggeser badanku ke kanan atau kiri. Yah, seperti tameng! Bisa kau bayangkan “Si Tua” menggunakan “Si Anak Kecil” sebagai tameng pelindung. Sekarang bisa kau lihat buktinya, orang tua kadang lebih payah daripada anak kecil. Aku berharap aku berubah menjadi hantu seandainya polisi itu tak sengaja menembakku hingga mati. Aku akan menakuti laki laki ini dalam mimpi pun.
Saat kami tiba di tikungan salah seorang polisi tiba tiba melepaskan tembakan ke arah kami. Laki laki ini pun dengan sangat cepat bersembunyi di belakangku. Dia memegangiku sangat erat seperti balita memegangi balon yang baru dibelikan ibunya. Bisa kurasakan tangannya yang gemetaran memegangiku. Waktu itu lagi lagi aku sangat kecewa. Tak kusangka laki laki ini begitu pengecut. Padahal dia juga membawa senjata. Entah apa yang ada di otaknya.
“Jangan pedulikan mereka Om. Mereka nggak akan berani nembak kok. Selama aku jadi sandera, Om aman.”
Dia diam saja, tak menyahut. Hanya nafasnya saja yang berhembus sekencang topan. Aku benar-benar kecewa pada orang ini. Sebagai penjahat saja dia tidak becus.
Pelan pelan kami berjalan mundur ke belakang. Aku masih di depannya, melindunginya dari tembakan polisi di depan kami.
BRAKKK!! Tiba tiba dia jatuh entah kenapa. Aku ikut terjatuh karena dia memegangiku sangat erat. Tapi aku berhasil bangun. Kuambil pistolnya yang terjungkal kemudian. Kutodongkan pistol itu padanya.
“Cepat lari Om sebelum aku berubah pikiran!”
Pelan pelan laki laki ini bangun dan menunjukkan gelagat mencurigakan.
DORRR! Kuputuskan menembak kaleng kosong di dekat kakinya hingga terpental. Dia kaget setengah mati.
“Jangan main main! Itu bukan mainan tau!” katanya.
Aku tak menjawab. Aku cuma memasang wajah galak.
“Ka… ka..kamu mau bunuh a… a… ku, ya?” tanyanya gelagapan
“Bodoh!” kataku. “Angkat tangan! Hadap tembok! Nggak usah bergerak!”
Kuputuskan mengakhiri permainan.      


No comments:

Post a Comment