Jika kau membaca Koran akhir-akhir ini, kau
pasti tahu cerita ini. Cerita tentang seseorang bernama Bill yang disandera
penjarah took perhiasan 2 hari lalu. Yah aku lah dia. Seseorang berusia 12
tahun yang punya biji duren
di kepala. Biji duren
itu sekarang katanya sudah berakar di otakku. Jadi mungkin tak lama lagi kau
bisa melihat tunas kecil mencuat di antara rambut hitamku.
Yah itu hanya untuk perkenalan. Sekarang
aku akan membawamu kembali ke 2 hari lalu. Tapi bukan dengan mesin waktu. Jadi
bersiaplah.
2 hari lalu 2 batu kecil masuk ke dalam
kaus kakiku. Aku sudah tahu mmereka ada di situ menggigiti kakiku sejak pagi.
Tapi kubiarkan saja. Saat itu sakit malasku sedang kumat. Aku benar-benar tak
ingin melepaskan sepatuku hanya karena 2 batu konyol itu. Tapi kenyataan
memaksaku merubah rencana. Saat kurasa matahari mulai membakar ubun-ubun
kepalaku, kuputuskan membuang mereka. Aku tak mau tubuhku tiba-tiba meledak
karena jengkel. Terik matahari saja sudah cukup membuatku gila. Dan dua batu
kecil itu tak perlu membuatku makin gila.
Aku lalu berhenti di bawah pohon di depan
pertokoan. Kubuka sepatu juga kaus kakiku. Waktu itu para penjarah itu sedang
beraksi. Aku sempat dengar suara dor juga jeritan histeris. Tapi aku tak
peduli. Aku tetap saja berhenti, lalu duduk di depan took itu. Yang aku
pikirkan saat itu Cuma segera mengambil para batu sialan di dalam sepatuku lalu
pergi dari tempat itu. Asal kau tahu, kata segera di sni bukan sebagai penunjuk
bahwa aku takut. Aku sama sekal tidak takut. Aku Cuma tak ingin terlibat dengan
mereka. Kalaupun seandainya penjarah itu tiba-tiba datang lalu menembak
kepalaku, aku tak peduli. Aku tak takut mati. Aku 12 tahun, tapi aku siap mati
kapan saja.
Tak lama kemudian kudengar suara sirine
mobil. Suara yang mulanya kukira suara sirine mobil ambulan itu makin lama
makin dekat ke arahku. Tapi akhirnya aku segera tahu kalau itu suara sirine
mobil polisi karena tepat saat itu juga para penjarah itu mulai keluar dari
toko. Satu persatu mereka berjalan melaluiku. Aku tak peduli. Aku diam saja.
Aku cuma sekali saja mendongakkan kepalaku sambil memasang tali sepatu kiriku.
Saat itu aku yakin sejuta persen mereka tak akan menggangguku. Tapi dugaanku
ternyata meleset. Salah seorang dari mereka, yang berjalan paling belakang tiba-tiba
meraih tanganku lalu teriak,
“JANGAN MACAM-MACAM1 KAMI PUNYA SANDERA!”
“JANGAN MACAM-MACAM1 KAMI PUNYA SANDERA!”
Sandera? Saat itu aku tak langsung sadar
tentang statusku sebagai sandera. Semuanya terjadi sangat cepat. Tak bisa
kuhitung waktunya dengan tepat. Yang jelas tak lebih dari 1 menit sejak aku
duduk di situ. Dan terus terang aku sangat terkejut. Laki-laki ini tiba-tiba
saja mencengkeram tanganku dengan kuat. Badanku kemudian terhempas cepat ke
tubuhnya. Jadi bagaimana bisa langsung kusadari bahwa aku lah Si Sandera itu?
Yang terjadi selanjutnya adalah polisi dan
penjarah ini saling sahut menyahut. Tak jelas benar apa yang mereka bicarakan.
Padahal aku berada sangat dekat dengan mereka. Bukan? Bukan sangat dekat! Tapi
ditengah-tengah mereka. Kan
aku sanderanya. Aku juga terlibat dalam hal ini. Kau mau tahu kenapa hal
ini terjadi? Maksudku hal kenapa
pembicaraan antara polisi dan penyanderaku ini tak begitu jelas bagiku. Itu
karena ada sesuatau yang tumbuh di kepalaku. Aku teringat pada semua film
action yang sudah kutonton. Yah situasinya hamper sama. Dan aku benar-benar tak
bisa berhenti mengingat film-film itu. Konyol bukan? Makanya begitu aku sadar
aku langsung tertawa. Aku benar-benar tak menyangka hal ini terjadi padaku.
Polisi-polisi itu tak tahu aku sedang tertawa. Mereka terlalu jauh. Laki-laki
inilah yang mengetahuinya. Badanku bergetar hebat saat aku tertawa, sedang dia
memegangiku. Selain itu aku tak bisa menyimpan suaranya, suara ketawaku
walaupun sangat kecil. Jadi yang terjadi selanjutnya adalah laki-laki bertopeng
ini menodongkan pistolnya ke kepalaku.
“DIAM BODOH!” bentaknya. Aku berusaha
meredam ketawaku. “Kamu gila ya?” bentaknya lagi dengan nada heran.
Aku yakin dia anggap aku orang aneh karena aku sama sekali tak
menunjukkan ekspresi panic, takut apalagi menangis. Kau pasti tahu bagaimana
biasanya ekspresi para sandera. Hampir sama seperti wanita-wanita tadi:
melolong, meraung, gemetaran atau ada yang tiba-tiba mati. Yah mungkin karena
sesutau yang tumbuh di kepalaku ini. Jadinya aaku tetap tenang-tenang saja.
“Saya ngerasa kayak main film, Om ! Om nahan saya di sini, terus polisinya di sana . Keren banget Om ! Kayak di TV.” Dengan jujur kuungkapkan isi kepalaku.
Aku tahu pada awalnya dia memperhatikan
ucapanku, tapi waktu bicaraku mulai tak karuan, sepertinya dia mulai berlagak
mengabaikanku. Aku tak peduli. Aku tetap saja bicara.
“Om lihat
mobil putih di sebelah toko jam itu nggak? Itu mobilnya wartawan, Om ! Di dalamnya ada waratawan lagi nyuting kita.
Hebatkan?”
Dia masih berlagak mengacuhanku. Yah
seperti bicara dengan tembok. Yah tapi sekali lagi kukatakan, itu hanya lagak.
Sebenarnya dia memperhatikan ucapanku. Dia cuma pura-pura tidak mendengar. Aku
tahu itu. Kau akan tahu kenapa aku yakin akan hal ini. Yah itulah manusia. Mereka semua sangat suka
menyamar. Dan itu mereka lakukan hanya karena tak ingin dianggap remeh oleh
manusia lain. Dan karena aku juga manusia, maka aku juga pernah melakukan hal
serupa. Dan karena aku atahu bahwa manusia sangat suka menyamar, maka aku tak
bisa seratus persaen percaya pada siapapun. Hanya saja aku sering memaksa orang
lain untuk percaya padaku. Yah itulah salah satu kelemahanku. Kali ini
kubiarkan kau mengetahuinya. Mungkin ini adalah awal bagiku untuk percaya pada
manusia lain.
“Om , lihat
dua orang item di atap gedung itu? Lihat deh, Om !
Mereka itu sniper, Om. Om tahu sniper kan ? Sniper itu penembak
jitu. Kalo Om berani macam-macam, Om langsung ditembak MATI DI TEMPAT!”
Tiga kata terakhir kuucapkan dengan pelan
dan mantap. Aku berusaha menaku-nakutinya
“Jadi Om sebaiknya hati-hati deh! Soalnya
aku bukan anak sembarangan.”
Sebenarnya sniper-sniper itu cuma bualanku
saja. Aku cuma mengarang. Jadi sebaiknya kau jangan ikut percaya. Karena jika
kau percaya maka kau ssma bodohnya dengan laki-laki yang menyanderaku ini. Dia
langsung melihat ke atap gedung begitu aku selesai membual. Dan setelah itu
nafasnya terdengar seperti gemuruh Tsunami. Aku merasa geli saat itu. Tak
kusangka orang ini begitu mudah ditipu.
“Terus dengar suara-suara aneh ini nggak?”
kataku lagi. “ Ini suara helicopter, Om. Di
dalamnya ada…”
“DIAM BODOH!” bentaknya tiba-tiba. “ATAU
KAMU YANG MATI DI TEMPAT!”
“Mau bunuh? Silahkan! Kalau aku mati, Om nggak punya sandera. Mereka bisa aja langsung nembak Om. Terus ceritanya ta…”
kata terakhir adalah ‘tamat’. Tapi rupanya kalimatku belum boleh tamat. Sebab dia langsung memotong.
kata terakhir adalah ‘tamat’. Tapi rupanya kalimatku belum boleh tamat. Sebab dia langsung memotong.
“DIAM ATAU….”
DORR! Dia menembak tong sampah di sebelah
kami.
“Wow!” bukan kata yang tepat, tapi justru
kata itulah yang terlontar dari mulutku. Dan jangan ditanya, aku kaget bukan
main. Makanya seelah kata wow itu aku diam seribu bahasa. Bukan karena takut.
Bau asap mesiu membuatku ingin muntah. Suara pistol itu benar-benar memekakkan
telingaku. Tapi aku tak peduli. Sudah kukatakan padamu, aku merasa seperti
jagoan di film action. Kau pasti tahu, tokoh jagoan di film manapun tak akan
mati. Mereka selalu bertahan sampai film tamat, apapun yang terjadi.
Aku ingat, setelah si penyandera bertopeng
ini menembak tong sampah, polisi-polisi itu mulai meneriakinya lagi. Kali ini
aku mendengar suara mereka dengan sangat jelas. Hanya saja seperti biasa, aku
tak tahu apa yang mereka bicarakan. Ada
sesuatu yang tumbuh di kepalaku. Selesai mereka bicara kuungkapkan isi kepalaku
pada laki-laki ini.
“Ndengerin Om teriak, aku jadi ingat pada
seseorang.”
“Heh?”
“Om tahu
Bono, nggak?”
“Nggak!”
“Bono itu vokalis grup band besar asal UK .
U2. Om tahu?”
“Nggak!”
“Suaranya mirip banget kayak Om. Om tahu lagu ini
nggak?”
Aku pun lalu mulai menyanyikan beberapa
lagu milik U2. Setiap satu lagu selesai kunyanyikan, dia selalu menjawab dengan
“enggak!”
Saat aku melantunkan Elevation dia lalu berkata,
“Hey aku tahu lagu itu. Tapi yakin suaraku
seperti dia?”
“Jangan ge-er ya Om ?
Soalnya aku nggak lagi muji. Tapi emang iya, kok!”
Bagian ini adalah bagian terlucu dari kisah
penyaderaanku. Entah kami menjadi sangat akur saat itu . Dan asal kau, aku suka
bagian itu. Saat aku dan penyenderaku ini menjadi sangat akur. Kami sempat
mengobrol banyak tentang musik. Aku bahkan sempat menyarankan kepadanya agar
dia menjadi penyanyi saja. Aku benar-benar suka bagian itu. Dunia seperti milik
kami berdua saja. Polisi-polisi di depan kami seolah pajangan. Sekali lagi, aku
suka bagian itu. Aku dan dia sempat tertawa-tawa. Bahkan kami sempat saling
mengejek.
Aku tahu ini konyol, dan aku bertaruh kau pasti
tak percaya ceritaku atau paling tidak menganggap aku gila, padahal ceritaku
tamat. Apapun penilaianmu aku tak peduli. Sudah kukatakan padamu berkali-kali,
ada yang tumbuh di kepalaku. Aku tak peduli seandainya dia tiba-tiba
tersinggung lalu menembakku hingga mati. Sudah kukatakan padamu berkali-kali,
aku sama sekali tak takut mati. Sama sekali tak takut.
Mungkin terasa aneh bagimu karena aku
berulang kali menegaskan bahwa aku tak takut mati. Terus terang aku hanya ingin
kau percaya bahwa apa yang kukatakan benar-benar dari hati juga akalku. Bahwa
aku benar-benar tak takut mati. Bahwa aku siap mati kapan saja. Lebih dari itu,
seandainya aku mati saat itu, aku justru senang. Karena itu berarti aku bisa
meninggalkan dunia gila ini dengan semua orang konyol di dalamnya. Asal kau
tahu. Setiap pagi aku selalu bangun dengan senyum. Aku selalu berharap bisa
menemukan sesuatu yang lebih berarti dari sekedar permainan yang membosankan
setiap hari. Kadang aku menemukannya, tapi selalu saja ada orang-orang bodoh yang
mengacaukannya. Aku juga bodoh. Aku cuma bisa diam saat aku tahu ada sesuatau
yang salah terjadi. Kadang-kadang aku malah ikut bermain. Yah itulah salah satu
contoh kegagalanku. Tapi segalanya selalu berhasil kututupi. Terus terang aku
letih.
Yang terjadi selanjutnya adalah keringat
laki-laki ini mulai menetes di kepalaku. Di wajahku tepatnya. Aku sedang
melihatnya ketika keringat itu tiba-tiba menetes ke atas wajahku. Kudengar
degup jantungnya yang berpacu secepat kereta api. Kulihat mulutnya terbuka tertutup.
Dia bicara sendiri. Dia panik.
“Ditinggal temannya ya, Om !
Cuma nebak. Tapi aku tahu kok!” dia Cuma diam. “Tenang, Om !
Buat penjahat kelas Paus kayak Om polisi bukan apa-apa kan
Om ?”
Dia tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya
terus bicara sendiri.
“Bagaimana ini… bagaimana ini…” katanya
dengan suara sangat lirih.
Mungkin dia tak berharap kata-kata itu
terdengar olehku. Mungkin dia tak ingin aku tahu kalau dia bodoh. Mungkin dia
juga berharap aku tidak tahu bahwa dia sangat mengecewakan. Harapannya hanyalah
harapan karena aku tahu semuanaya. Waktu itu aku langsung kecewa.
“Yah, aku tahu! Kilat Cuma ada kalau
mendung. Teman Cuma dating kalau butuh. Tapi nyantai aja Om !
Beginilah dunia.”
Masalah ‘teman’ ini jangan kau anggap
serius. Ini Cuma umpan buat penjarah ini saja agar dia mau bicara. Dan umpanku
termakan, karena dia lalu bicara.
“Dasar anak kecil! Tahu apa kamu?
Kecil-kecil ngomong dunia. Omonng kosong tahu!”
Mendengar bicaranya jantungku tiba-tiba
berpacu kencang. Darahkmu rasanya meluap.
“Enak aja Om
bilang aku anak kecil! Asal tahu aja Om , aku
Cuma tidur 8 jam sehari. Aku pernah ketemu semua presiden dunia. Aku bisa
bicara 50 bahasa dunia. Aku juga bisa nyetir mobil sendiri. Aku bukan anak
kecil, Om ! Ada lagi, aku memang tahu seluruh dunia. Gak
semua memang! Tapi lebih tahu dari Om dan
semua orang di bumi ini. ”
Omelanku yang panjang ini memang bukan
omong kosong. Aku bicara benar. Aku terpaksa memamerkan segala kemampuanku karena laki laki ini
mengataiku ‘anak kecil’. Aku tak suka dipanggil anak kecil. Apalagi anak kecil
yang tak tahu apa apa. Umur tak pernah menjamin pengetahuan atau kedewasaan
seseorang. Dan asal kau tahu, aku memang termasuk orang paling jenius di muka
bumi ini. Tak butuh waktu banyak buatku memecahkan soal aritmatika. Ilmu
filsafat juga bukan masalah buatku. Bukannya sombong, tapi memang seperti
itulah aku.
Setelah masalah anak kecil itu, aku diam,
terus terang aku sangat jengkel. Aku tak suka dipanggil anak kecil. Dia piker
dia tak pernah kecil. Dia piker dia begitu saja keluar dari perut ibunya dengan
ukuran jumbo. Dia piker dia tak pernah berumur duabelas tahun. Oh aku tahu. Dia
pastinya pernah berusia dua belas tahun, hanya saja dia masih terlalu bodoh
pada saat itu.
Lima menit berlalu. Statusku tetap sebagai
sandera. Penyaderaku masih tetap memegangiku. Masih kudengar juga degup
jantungnya yang berpacu cepat. Aku tak tahu apa yang dia tunggu dia tak
beranjak satu langkahpun dari tempat semula kami berdiri. Aku pun lalu bicara.
“Udah deh Om! Temen Om udah bener bener pergi.
Mobil merah yang di ujung gang itu udah pergi dari tadi.”
Mobil merah yang kumaksud adalah mobil yang
dipakai penjarah ini. Waktu mobil itu pergi aku langsung merasa kasihan pada
laki laki yang menyanderaku ini. Tapi apa mau dikata. Dia memang sangat bodoh.
Entah kenapa dia lebih memilih untuk menyanderaku daripada lari bersama
teman-temannya. Padahal menurut perhitunganku, dia masih sempat kabur
seandainya dia tak menahanku.
“Toko ini nyambung ke pasar Om! Kita bias
jalan pelan pelan ke sana, terus Om bisa lari.”
Aku memang merasa kasihan. Tapi aku bicara
begini bukan untuk menolongnya. Aku mulai bosan. Situasinya mulai tidak
menarik. Lagi pula tenggorokanku mulai terasa kering. Aku tak mau menghabiskan
waktuku bersama mereka hingga tubuhku sekering keripik kentang di padang pasir.
Untungnya dia menurutiku. Pelan pelan kami berjalan melalui beberapa pohon ,
menuju lorong.
Aku berjalan di depannya, sementara ia
berjalan menghimpit tembok pertokoan. Jadi seandainya para polisi itu
menembaknya, dia bisa menggeser badanku ke kanan atau kiri. Yah, seperti
tameng! Bisa kau bayangkan “Si Tua” menggunakan “Si Anak Kecil” sebagai tameng
pelindung. Sekarang bisa kau lihat buktinya, orang tua kadang lebih payah
daripada anak kecil. Aku berharap aku berubah menjadi hantu seandainya polisi
itu tak sengaja menembakku hingga mati. Aku akan menakuti laki laki ini dalam
mimpi pun.
Saat kami tiba di tikungan salah seorang
polisi tiba tiba melepaskan tembakan ke arah kami. Laki laki ini pun dengan
sangat cepat bersembunyi di belakangku. Dia memegangiku sangat erat seperti
balita memegangi balon yang baru dibelikan ibunya. Bisa kurasakan tangannya
yang gemetaran memegangiku. Waktu itu lagi lagi aku sangat kecewa. Tak kusangka
laki laki ini begitu pengecut. Padahal dia juga membawa senjata. Entah apa yang
ada di otaknya.
“Jangan pedulikan mereka Om. Mereka nggak
akan berani nembak kok. Selama aku jadi sandera, Om aman.”
Dia diam saja, tak menyahut. Hanya nafasnya
saja yang berhembus sekencang topan. Aku benar-benar kecewa pada orang ini.
Sebagai penjahat saja dia tidak becus.
Pelan pelan kami berjalan mundur ke
belakang. Aku masih di depannya, melindunginya dari tembakan polisi di depan
kami.
BRAKKK!! Tiba tiba dia jatuh entah kenapa.
Aku ikut terjatuh karena dia memegangiku sangat erat. Tapi aku berhasil bangun.
Kuambil pistolnya yang terjungkal kemudian. Kutodongkan pistol itu padanya.
“Cepat lari Om sebelum aku berubah
pikiran!”
Pelan pelan laki laki ini bangun dan
menunjukkan gelagat mencurigakan.
DORRR! Kuputuskan menembak kaleng kosong di
dekat kakinya hingga terpental. Dia kaget setengah mati.
“Jangan main main! Itu bukan mainan tau!”
katanya.
Aku tak menjawab. Aku cuma memasang wajah
galak.
“Ka… ka..kamu mau bunuh a… a… ku, ya?”
tanyanya gelagapan
“Bodoh!” kataku. “Angkat tangan! Hadap
tembok! Nggak usah bergerak!”
Kuputuskan mengakhiri permainan.


No comments:
Post a Comment