Monday, March 5, 2012

Oranye


Oranye

Mungkin kau tak percaya tentang dimana aku sekarang. Aku sekarang di ketinggian 15000 kaki. Aku sedang duduk di atap gedung tertinggi di kota ini. Tepat di sebelah tiang penangkal petir. Tempat yang tak seorangpun akan menemukanku. Tempat yang dari sini manusia terlihat sekecil tanda koma. Jangan ditanya bagaimana aku bisa sampai di sini. Yang kau perlu tahu adalah dari sini dunia terlihat sangat berbeda.
Matahari di ujung hamper tenggelam. Oranye jadi mendominasi langit. Semuanya terlihat indah. Pemandangan yang luar biasa bagiku.




Aku ingat, dulu aku sering bermimpi punya planet sendiri. Bukan planet yang selebar Bulan, Bumi, apalagi Matahari. Yang jelas cukup nyaman untuk satu orang penghuni saja –aku. Yah, cuma aku yang menghuni planet itu. Satu-satunya temanku cuma sebatang tongkat. Tongkat ini bukan sembarang tongkat. Tongkat ini semacam tongkat ajaib. Tak perlu bermimpi atau berharap begitu tongkat kuputar segala hal yang kuinginkan langsung muncul di depanku. Hmpfh! Tapi itu dulu. Yah, karena dulu kutemukan bahwa dunia sangat aneh.
Sampai sekarang dunia sebenarnya masih tetap aneh. Makin aneh bahkan. Tapi aku tak mengharapkan dunia menjadi yang benar-benar seperti dalam mimpiku. Aku tak mengharapkan dunia jadi seperti keripik kentang – makanan favoritku. Meskipum aku suka, aku yakin lama-kelamaan aku akan bosan. Aku yakin dengan hal itu.
Dunia ini adalah surga dengan segala keanehannya. Dibalik kebingunganku aku bisa menemukan bahwa ternyata aku masih manusia. Kalau sudah begitu aku bisa tersenyum-senyum sendiri
Hmmmmh…
Kurasa sudah waktunya pulang. Oranye hilang. Lagipula udara makin dingin. Untuk  terakhir kali kutatap langit. Bintang tak sebanyak dulu. Tapi langit tetap indah. Dan bintang tetap bisa mengembalikanku pada rumah.
Dan Tuhan, oranye ini milikMu kan!

No comments:

Post a Comment