Oranye
Mungkin kau tak percaya tentang dimana aku
sekarang. Aku sekarang di ketinggian 15000 kaki. Aku sedang duduk di atap
gedung tertinggi di kota
ini. Tepat di sebelah tiang penangkal petir. Tempat yang tak seorangpun akan
menemukanku. Tempat yang dari sini manusia terlihat sekecil tanda koma. Jangan
ditanya bagaimana aku bisa sampai di sini. Yang kau perlu tahu adalah dari sini
dunia terlihat sangat berbeda.
Matahari di ujung hamper tenggelam. Oranye
jadi mendominasi langit. Semuanya terlihat indah. Pemandangan yang luar biasa
bagiku.
Aku ingat, dulu aku sering bermimpi punya
planet sendiri. Bukan planet yang selebar Bulan, Bumi, apalagi Matahari. Yang
jelas cukup nyaman untuk satu orang penghuni saja –aku. Yah, cuma aku yang
menghuni planet itu. Satu-satunya temanku cuma sebatang tongkat. Tongkat ini
bukan sembarang tongkat. Tongkat ini semacam tongkat ajaib. Tak perlu bermimpi
atau berharap begitu tongkat kuputar segala hal yang kuinginkan langsung muncul
di depanku. Hmpfh! Tapi itu dulu. Yah, karena dulu kutemukan bahwa dunia sangat
aneh.
Sampai sekarang dunia sebenarnya masih
tetap aneh. Makin aneh bahkan. Tapi aku tak mengharapkan dunia menjadi yang
benar-benar seperti dalam mimpiku. Aku tak mengharapkan dunia jadi seperti
keripik kentang – makanan favoritku. Meskipum aku suka, aku yakin lama-kelamaan
aku akan bosan. Aku yakin dengan hal itu.
Dunia ini adalah surga dengan segala
keanehannya. Dibalik kebingunganku aku bisa menemukan bahwa ternyata aku masih
manusia. Kalau sudah begitu aku bisa tersenyum-senyum sendiri
Hmmmmh…
Kurasa sudah waktunya pulang. Oranye
hilang. Lagipula udara makin dingin. Untuk
terakhir kali kutatap langit. Bintang tak sebanyak dulu. Tapi langit
tetap indah. Dan bintang tetap bisa mengembalikanku pada rumah.
Dan Tuhan, oranye ini milikMu kan!
Dan Tuhan, oranye ini milikMu kan!
No comments:
Post a Comment